Toleransi dan kerukunan antarumat beragama di Indonesia, contoh untuk dunia

0

Oleh: Wati Chaeron

 

Saat ini, kerja sama antara Belanda dan Indonesia dalam bidang perdagangan, budaya, industri, dan keamanan sangat baik. Itulah yang diutarakan oleh Bapak Din Wahid, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Den Haag. Dalam rangka meningkatkan keamanan bilateral, para perwakilan Belanda dan Indonesia yang terlibat dalam The Dutch trade mission to Indonesia 2016, telah melaksanakan acara “Interfaith Dialogue” pada hari Senin, 26 November 2018 di Aula Nusantara, KBRI Den Haag. Turut hadir adalah Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (yang dihadiri oleh Wakil Gubernur Bapak Steven Kandouw), Diaspora Indonesia Belanda, serta perwakilan masyarakat Indonesia beragama di Belanda.

Jumlah perwakilan yang hadir terdiri dari umat Katolik, Protestan, dan Islam karena acara dialog ini memang bertujuan untuk belajar dari hubungan antara kaum Muslim dan Kristen dalam konteks Sulawesi Utara dan Belanda.

Mayoritas penduduk Sulawesi Utara terdiri atas suku Minahasa yang menganut agama Kristen sementara penduduk minoritas Muslim setempat adalah orang-orang Jawa keturunan Dipenogoro yang diasingkan oleh penjajah Belanda sekitar tahun 1830-an. Namun demikian, kehidupan minoritas Muslim di Sulawesi Utara dapat dikatakan baik. Mereka bebas mendirikan masjid, pesantren, dan melakukan pernikahan campur tanpa harus pindah agama.

Begitu pun halnya di Belanda, di mana kerukunan antarumat Muslim dan Kristen Indonesia berjalan dengan baik. Tingkat toleransi ini dapat disaksikan saat perayaan hari-hari besar agama, seperti Lebaran dan Natal. Tingkat persaudaraan ini merupakan kebanggaan kita sebagai orang Indonesia yang memiliki toleransi yang unik, dinamis, dan optimis.

Bapak Din Wahid mengungkapkan bahwa masyarakat Indonesia dianjurkan untuk maju ke atas podium kemasyarakatan di Belanda untuk menunjukkan kerukunan antarumat beragama. Salah satu contoh adalah Masjid Al-Hikmah di Den Haag yang sering terlibat dalam kegiatan masyarakat dan gereja setempat. Beberapa kali mereka saling mengundang untuk mengunjungi dan mengenali tempat ibadahnya masing-masing. Contoh lainnya adalah gereja-gereja Minahasa di Belanda yang terkenal akan kehangatan umatnya sehingga menarik orang-orang beretnis lain, seperti Cina, Ambon, Jawa maupun Belanda. Sering kali, gereja-gereja ini juga menyediakan pertemuan-pertemuan dalam bahasa Belanda.

Secara hakiki, orang Indonesia merupakan kaum beragama yang hangat dan passionate. Mereka menganggap bahwa berkeyakinan itu penting karena merupakan sumber ketenangan dan kebahagiaan jiwa. Unsur inilah yang menjadi kekuatan untuk menjaga persatuan bangsa. Tidak heran bahwa Indonesia dijuluki sebagai negara dengan tingkat kerukunan beragama yang tinggi. Keberagaman dan kompleksitas struktur budaya negara Indonesia seperti ini tidak ada perbandingannya di dunia. Namun, kita harus tetap waspada atas adanya peningkatan kelompok ekstremis yang mengatasnamakan agama dengan motivasi politik atau hal lainnya. Hal ini dapat diberantas dengan dialog yang aktif agar kerukunan antar umat beragama tetap terjaga.

Acara Interfaith Dialogue berjalan lancar dan bersuasana harmonis serta damai. Saya berpendapat bahwa dengan adanya niat untuk menjangkau kepada orang atau kaum lain untuk meningkatkan kepahaman atas satu sama lain sudah merupakan tujuan yang baik. Dialog antaragama diperlukan untuk mewaspadai bahwa keberagaman dan perbedaan pendapat adalah suatu kekayaan bukan faktor pemecahan. Memiliki pendapat yang berbeda, agama yang berbeda, dan keputusan yang berbeda akan membentuk kemasyarakatan yang bebas dan bertanggungjawab. Seperti yang diutarakan oleh moderator, Leon van Maaren dari Diaspora Indonesia, saat menutup acara: “Pergunakanlah ketulusan hati saat mengeluarkan pendapat untuk menghindari kesalahpahaman”.

Share.

About Author

Leave A Reply