Our Simple Life in Den Haag

0

Oleh: Danang Waskito

 
Hidup kami di Belanda dimulai pada tanggal 26 Oktober 2012, ketika lima orang mengambil langkah-langkah pertama mereka di Bandara Schiphol, Amsterdam. Sejak itu, saya dan keluarga menikmati hidup di negara kecil tapi indah ini.

Belanda bukanlah negara pertama di luar negeri yang pernah kami tempati.Bagi saya ini adalah negara keempat setelah Jepang (satu setengah tahun), Australia (dua tahun), dan Mesir (tiga tahun). Semua anak-anak kami lahir bahagia di luar negeri. Satu di Australia dan dua lagi di Mesir.

Meskipun Belanda bukanlah negara pertama, kami sangat senang tinggal di sini. Hidup di sini berbeda dibanding negara-negara sebelumnya. Terutama jika Anda tinggal di kota yang tenang seperti Den Haag: di mana hampir tidak ada kemacetan, sepeda dianggap raja jalanan, dan banyak taman hijau yang mendistribusikan oksigen segar. Den Haag memang sebuah kota yang indah untuk hidup. Apalagi, jika Anda menyukai suasana santai dan gemar tidur, kota inilah yang paling tepat!

Tapi, ada saja hal-hal yang saya kangenkan, seperti:
1. Para penjual kaki lima, seperti tukang bakso, di Indonesia yang siap melayani sepanjang hari dan malam untuk Anda;
2. Anak-anak yang bermain di pinggiran Jakarta;
3. Pengendara-pengendara bermotor yang tidak memberi sen, seperti di Mesir;
4. Kehidupan mahasiswa yang membaca buku, seperti di Australia dan Jepang;
5. Fenomena mudik di Indonesia;
6. Azan yang berkumandang, seperti di Indonesia dan Mesir;
7. Santapan miso suru, sushi, shashimi yang lezat di kantin Nagoya Daigaku…

…dan masih banyak lagi.

Terlepas dengan itu semua, kami senang dengan kehidupan kami yang sederhana di Den Haag ini. Cukuplah kami bahagia di mana pun kami tinggal. Apalagi di sini Anda bisa  temukan tempat-tempat makan Indonesia dengan mudah. Jadi, kurang apa lagi? Perut kenyang, hidup kami pun senang!

 

 

Share.

About Author

Leave A Reply

FreshMail.com
 

FreshMail.com