Detty Janssen: Giat mengampanyekan kuliner otentik Indonesia di Belanda

0

Sosok yang sudah tidak asing lagi di dunia kuliner Indonesia di Belanda, dialah Detty Janssen. Sejak pindah ke Eindhoven, Belanda, pada 2004, perempuan kelahiran Madiun ini sadar betapa minimnya apresiasi  terhadap masakan Indonesia yang otentik di Negeri Kincir Angin. Dari sanalah ibu dua anak ini mulai menapak beragam usaha untuk mendalami sekaligus mempromosikan kuliner Indonesia. Dari belajar masak, mendirikan bisnis DJ’s Kitchen n Shop hingga aktif menulis tentang makanan Indonesia di beragam media, adalah sebagian usahanya guna mengampanyekan keotentikan masakan Indonesia di Belanda.

Apakah ambisi utamanya? Ia ingin agar masakan Indonesia bisa sejajar dengan ‘masakan dunia’ lainnya, seperti masakan Perancis, Italia, dan Spanyol.

Mari ikuti wawancara tentang sepak terjang usahanya di bawah ini!

1. Bagaimana kisah awal Anda mendirikan DJ’s Kitchen n Shop?

Saya selalu memesan barang-barang Indonesia yang tidak dapat saya temukan di sini kepada keluarga atau teman-teman yang datang ke Belanda. Saking ketakutannya, saya sering memesan terlalu berlebihan hingga expired. Di situlah pertama kali timbul ide di tahun 2008, daripada disimpan hingga expired dan dibuang kenapa tidak saya jual saja?

Pada 2010 saya bertemu dengan Indo Direct Food (IDF), importir dari Inggris, yang mengajak saya untuk memasarkan barang-barang asal Indonesia.  Saya setuju dan akhirnya mengukuhkan Dj’s Kitchen ‘n Shop di tahun 2011.

Saya belajar banyak hal selama menjalankan bisnis tersebut. Dengan masuknya saya ke dunia kuliner Indonesia di Belanda, saya temukan banyak hal yang ingin saya ubah dan perbaiki.

Detty Janssen: Giat mengampanyekan kuliner otentik Indonesia di Belanda belindomag.nl

Detty bersama rekan-rekannya di dunia kuliner Indonesia, Belanda

2. Mengapa Anda memutuskan untuk menghentikan bisnis tersebut?

Dengan banyaknya kegiatan yang saya lakukan membuat saya tidak dapat fokus. Belum lagi dengan banyaknya kendala membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan.

Saya sadar tidak dapat melakukan semua sendiri hingga harus memilih: meneruskan usaha yang telah saya rintis atau melakukan apa yang saya terjuni belum lama ini? Akhirnya, keputusan saya adalah berkonsentrasi dalam membawa kuliner Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi di Belanda. Itulah yang akhirnya membuat saya memutuskan menutup Dj’s Kitchen ‘n Shop di tahun 2014.

3. Usaha-usaha seperti apa yang sedang Anda lakukan untuk mencapai cita-cita tersebut?

Saya ingin agar masakan Indonesia dapat dikenal oleh masyarakat luas, tidak hanya sebatas komunitas Indonesia. Oleh karena itu, dengan cara terjun langsung ke dalam komunitas Belanda, saya yakin bisa membawa makanan Indonesia ke level yang lebih tinggi.

Fokus saya juga untuk mensosialisasikan kuliner otentik Indonesia kepada para chef Belanda. Mengapa? Pertama, bisa dikatakan tidak sedikit chef Belanda atau di luar Belanda yang tidak mengerti akan makanan Indonesia. Sebagian dari mereka bahkan menyamakan makanan Indonesia dengan makanan Indisch dan menurut saya itu salah! Kedua, selain lebih mudah untuk berbagi pengetahuan perihal makanan dengan para chef, mereka juga lebih cenderung meneruskan pengetahuan dan informasi yang mereka terima ke dalam praktik mereka.

4. Menurut Anda, keadaan dan posisi masakan Indonesia di Belanda itu seperti apa?

Saya melihat kebanyakan makanan Indonesia di Belanda disesuaikan dengan lidah penduduk Belanda. Tidak sedikit juga yang lebih mementingkan quantity over quality. Contohnya Rendang. Rendang yang asli rasanya pedas. Tapi, rasa rendang yang kita temukan di Belanda malah disesuaikan dengan lidah orang Belanda. Menurut saya ini salah!

Detty Janssen: Giat mengampanyekan kuliner otentik Indonesia di Belanda belindomag.nl

Bersama pakar kuliner Belanda Peter Lute

5. Anda sempat menyinggung tentang hal ini sebelumnya. Memangnya apa yang membedakan masakan Indisch dengan Indonesia?

Makanan Indisch itu adalah makanan perpaduan antara citarasa Nusantara, Cina, dan Eropa. Bagi saya, makanan Indisch itu mempunyai banyak pengaruh dari Cina. Dan pastinya, makanan Indisch itu biasanya makanan yang sudah disesuaikan dan dimodifikasi.

Sementara kalau berbicara makanan Indonesia, rasanya harus otentik. Apa yang membuat masakan Indonesia itu otentik? Ketika kita makan, di mana pun kita berada, rasanya sama. Cara membedakan masakan Indonesia yang otentik dan yang tidak juga bisa dilihat dari penggunaan bahan, alat, atau cara memasaknya.

6. Menurut Anda, mengapa masakan Indonesia itu belum bisa dikatakan sebagai “masakan dunia” seperti halnya masakan Jepang, India, atau Thais? Dan apa yang perlu dilakukan untuk mengubahnya?

Menurut saya itu karena kita sudah kalah start dari mereka.

Ini dimulai dari sistem pendidikan di Indonesia. Pelajar kuliner Indonesia mempelajari 99% western food dan hanya 1% masakan dalam negeri. Jadi, di saat negara lain giat mengeksplor masakannya sendiri, kita malahan expert masakan orang lain.

Menurut saya, jika pada tahun 70 dan 80-an masakan Indonesia sudah dijelajahi mulai dari rasanya, saya yakin posisi masakan Indonesia tidak kalah sama mereka saat ini. Sayangnya, pemerintah masih kurang mendukung pada waktu itu. Baru-baru ini saja pemerintah mulai menggalakkan pentingnya kuliner otentik Indonesia. Buku 30 Ikon Kuliner Indonesia baru saja diluncurkan belum lama ini, kan?

Selain itu, tidak adanya kekonsistenan dalam memasak itu yang membuat masakan Indonesia belum bisa maju. Kembali lagi bila rendang itu rasa aslinya pedas, ya kita harus menyajikannya pedas. Orang harus bisa menerima bahwa rendang itu pedas, bukannya kita yang menyesuaikan rendang dengan keinginan pasar tempat kita tinggal. Tom yum di mana-mana rasanya sama. Kimchi pun begitu.

7. Gambarkan masakan Indonesia dengan tiga kata.

Sepertinya menjabarkan masakan Indonesia dengan tiga kata itu tidak cukup. Buat saya makanan indonesia itu rich, spicy, herbs atau bisa juga berlemak, pedas, dan gurih. Tetapi, kata-kata rich, spicy dan herbs merangkum semua masakan Indonesia.

Detty Janssen: Giat mengampanyekan kuliner otentik Indonesia di Belanda belindomag.nl

Detty dan suaminya Rolf memiliki dua anak, Keisha dan Jamie

8. Apakah Anda memiliki restoran Indonesia favorit di Belanda? Apakah itu?

Sulit mengatakan jika saya mempunyai restoran favorit. Menurut saya, setiap restoran punya karakternya masing-masing, yang tak lepas dari plus minusnya. Ketika saya mengira telah menemukan restoran yang rasanya wow, dari segi rasa maupun penyajian, namun sesudah saya promosikan dan kembali mencicipinya, makanan yang disajikan berubah rasa hingga cukup mengecewakan. Sampai saat ini, saya belum bisa menemukan restoran Indonesia favorit di Belanda.

9. Apakah proyek-proyek yang ingin Anda lakukan di waktu yang akan datang?

Saya memimpikan banyak hal untuk mengangkat masakan Indonesia ke jenjang yang lebih tinggi. Saat ini, saya lebih berfokus untuk terjun langsung dan melakukan kegiatan-kegiatan dengan menjangkau target yang pas.

Salah satu contohnya, kami akan memberikan coaching clinic untuk para murid Restoran Fifteen Jamie Oliver di Amsterdam. Di samping kegiatan ini, saya juga sedang menggarap sebuah proyek bersama salah satu stasiun TV Belanda yang belum bisa saya ceritakan banyak.

Ada kepuasan dan kebanggaan tersendiri jika saya berhasil mengenalkan masakan dari negeri sendiri ke negara lain meskipun itu atas biaya sendiri. Mengingat kutipan dari Presiden Kennedy, “Ask not what your country can do for you; ask what you can do for your country.” Itu yang membuat saya ingin berjuang, atas kemampuan yang saya miliki, guna memajukan Indonesia.

Share.

About Author

Leave A Reply