Wawancara Ferlin Yoswara, seniman asal Bandung dengan prestasi mendunia

0

Oleh: N. Lastiani

Menuai cita-cita dan karier di negeri orang bisa jadi hal yang mengerikan, tapi tidak buat Ferlin Yoswara. Saat ia berusia 21 tahun, dengan modal uang ala kadarnya namun semangat yang tinggi, ia meninggalkan kota kelahirannya, Bandung, dan hijrah ke Belanda untuk meneruskan kariernya sebagai seorang seniman. Dan itu merupakan pilihan terbaik yang pernah ia buat.

Dari usia yang masih belia, Ferlin memang telah menemukan gairah hidupnya: seni dan desain. Ia memenangkan hadiah pertamanya saat ia berusia 4 tahun di Jepang dan sejak itulah karier seninya dimulai. Ferlin mengawalinya dengan menekuni seni pahat dan lukisan. Penghargaan-penghargaan internasional lainnya kemudian pun menyusul (200 total jumlahnya!) dari Eropa, Australia, dan Amerika Serikat. Selain itu, lukisan-lukisannya telah dimiliki oleh berbagai tokoh terkenal Belanda, seperti Perdana Menteri Mark Rutte bahkan keluarga kerajaan Belanda sekalipun!

Kini, Ferlin bukan hanya seorang seniman, tetapi juga seorang pejabat pemerintah (anggota Dewan Kerajinan Nasional Bandung), seorang pekerja sosial (Rotary Club International), juga seorang enterpreuner sekaligus desainer dua lini perhiasan miliknya: Ferlin Yoswara Fine Jewelry dan Lady Leux Jewelry.

Semangat dan keberanian Ferlin bisa menjadi pengingat buat kita bahwa impian dapat dijangkau jika kita mau bekerja keras untuk mencapainya. Kisahnya sangat inspiratif dan BelindoMag senang bisa berbaginya dengan kalian semua.

Interview Ferlin Yoswara

(Hidup telah memberi Ferlin jalan ke Belanda)

1. Pada usia 4 tahun, kamu memenangkan hadiah pertama kamu di tingkat internasional. Tolong ceritakan tentang itu.

Saya ikut lomba gambar yang diselenggarakan oleh Biiku Bunka Kyokai dan Nippon Television di Tokyo. Dari ratusan peserta dari seluruh dunia, saya mendapatkan Bronze International Award. Dari awal, orang tua saya selalu mendukung dan sejak saya memenangkan kompetisi itu mereka mencoba memasukkan saya dalam berbagai kompetisi seni internasional lainnya. Itulah asal mula karier saya sebagai seniman internasional.

2. Kenapa kamu pilih Belanda untuk meneruskan karier kamu?

Sebenarnya Belandalah yang memilih jalan hidup saya, hehehe. Pada tahun 2010, saya datang ke sini dengan niat untuk mencoba melihat peluang bisnis ekspor-impor kerajinan kayu atas undangan pemerintah Indonesia. Saya segan meminta uang dari ayah saya, jadi dengan sedikit uang yang saya punya, saya nekat pergi. Saya sudah siap jika kehabisan uang nanti saya paling akan coba menjual lukisan di pinggir jalanan Amsterdam haha. Tapi, Tuhan itu baik dan memperkenalkan saya kepada Bapak Umar Hadi (saat itu menjabat sebagai Wakil Duta Besar KBRI di Belanda). Beliau tertarik dengan karya-karya saya sehingga KBRI menggelar pameran solo buat saya untuk mewakili seniman muda Indonesia. Dari sana, saya mulai mendapat undangan dari berbagai galeri dan pameran seni di Belanda. Saya berkesempatan bertemu banyak orang baru dan bahkan membuat beberapa teman. Saya akhirnya jatuh cinta pada negara tulip ini dan memutuskan untuk melanjutkan karier seni saya di sini.

3. Berikan sedikit gambaran tentang aktivitas kamu di sini. Apa yang kamu lakukan di waktu senggang?

Saya tidak punya banyak waktu luang, tetapi saya benar-benar menikmati pekerjaan saya. Biasanya, saya menghadiri pameran-pameran seni dan acara-acara fashion karena banyak inspirasi yang saya dapatkan dari sana. Saya juga diundang ke acara-acara pemerintahan atau keluarga kerajaan Belanda. Jika benar-benar ingin bersantai, saya biasanya pergi ke Scheveningen, hangout bersama teman-teman, mengunjungi museum, dan mengunjungi tempat-tempat baru di Belanda.

4. Sekarang kamu berkecimpung ke dunia perhiasan. Apa yang menyebabkan kamu memasukinya?

Ferlin bersama Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte (2013)

(Ferlin bersama Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte)

Sejak 2014 saya memulai perusahaan perhiasan saya dan sangat didukung oleh ayah saya, Sentosa Yoswara. Dulu, ketika belajar seni rupa di Institut Seni Guangxi, Cina, fokus saya adalah seni patung. Saya selalu tertarik pada seni 3D dan menurut saya hal ini serupa dengan membuat perhiasan. Saya tetap mendesain patung tapi dengan ukuran yang lebih kecil. Dalam dunia perhiasan, Salvador Dali dan desainer Ping An Brouwers adalah inspirasi terbesar buat saya. Saya menganggap Ping guru saya dan kami berdua memiliki minat yang sama terhadap surealisme.

5. Jelaskan tentang dua lini perhiasan kamu. Apa yang membuatnya unik dari lini perhiasan lainnya?

Ferlin Yoswara Fine Jewelry adalah perhiasan skulptural, struktural, dan lebih ke arah “statement jewelry”. Setiap koleksinya dibuat unik dan desainnya menggabungkan ide-ide Barat (modern) dan Timur (tradisional). Material yang digunakan umumnya emas, perak, permata, berlian, dan mutiara alami. Saya juga sering buat perhiasaan sesuai permintaan klien. Lini ini dibuat secara handmade dan diproduksi di Den Haag. Kami juga menggunakan inovasi cetak 3D baru.

Lini satu lagi namanya Lady Leux Jewelry, yang lebih modern dan chic yang bisa dipakai sehari-hari. Material yang digunakan terdiri dari batu kristal, permata, dan mutiara. Saya memiliki tim desainer yang bertanggung jawab untuk lini ini di Bandung.

6. Dari mana datangnya inspirasi saat mendesain perhiasan kamu?

Kebanyakan inspirasi saya dapatkan saat traveling. Saya suka bepergian sendirian, melihat hal-hal yang unik di setiap negara, bertemu orang-orang lokal, terinspirasi oleh budaya mereka atau bangunan modern mereka. Tapi, saya juga terinspirasi oleh sesuatu yang lebih dekat dengan saya, seperti latar belakang keluarga saya, yaitu Cina-Hongkong-Belanda-Indonesia.

7. Apa yang menjadi highlight dari karier kamu hingga saat ini?

Interview Ferlin Yoswara

(Ferlin bersama Menlu Indonesia, Ibu Retno Marsudi)

Dari sekian penghargaan yang saya terima, saya paling bangga dengan penghargaan pertama saya di Jepang. Saya juga bangga dengan pameran seni solo saya yang pertama di Belanda pada tahun 2010. Sebagian uang yang saya dapatkan dari penjualan lukisan telah didonasikan kepada korban tsunami di Aceh melalui yayasan milik J.E. Habibie, mantan Duta Besar KBRI di Belanda.

Saya juga bangga menjadi bagian dari Rotary Club International, di mana aku melakukan terapi seni buat anak-anak korban bencana alam. Senang sekali melihat mereka tersenyum lagi lewat seni setelah melalui cobaan yang traumatis.

Kalau hal yang di luar karier, memiliki orang tua seperti ibu dan ayah saya merupakan anugerah terindah dari Tuhan. Ibu saya meninggal pada tahun 2008 dan ayah saya pada May 2015, tapi dua-duanya terus menjadi sumber inspirasi terbesar saya.

8. Dari segi profesi, apa aspek paling menantang dan paling memuaskan yang selama ini kamu alami?

Mendirikan perusahaan perhiasan pertama saya menjadi yang paling menantang sejauh ini. Menggabungkan kewirausahaan dan kreativitas itu hal yang tidak mudah. Tapi, aku menyukai apa yang saya lakukan. Jika bekerja dengan passion, rasanya seperti tidak bekerja lagi. Saya bisa melakukan perjalanan ke seluruh dunia, bertemu banyak orang, melihat tempat-tempat yang bagus dan budaya-budaya yang menginspirasi seni dan hidup saya!

 

Berikut adalah beberapa karya Ferlin:

Interview Ferlin YoswaraInterview Ferlin YoswaraInterview Ferlin YoswaraInterview Ferlin Yoswara

belindoshop.nlbelindoshop.nl

 

Tertarik dengan koleksi perhiasan wayang milik Ferlin Yoswara? Dapatkanlah di www.belindoshop.nl

Beruntunglah Anda! Pada 21 November 2015, Ferlin akan mengadakan workshop eksklusif Batik Art op Snijplank di Den Haag. Tertarik untuk ikutan? Daftar segera di sini! Limited seats only!

Kunjungi website pribadinya: www.ferlinyoswara.com / www.fyfinejewelry.com

 

 

Share.

About Author

Leave A Reply