Wawancara Glenn Haulussy, Ketua Yayasan Museum Maluku

0

Oleh: Natasha Nordin

Museum Maluku (MuMa) adalah sebuah museum yang koleksinya mengkhususkan pada sejarah, budaya, serta aktualitas masyarakat Maluku di Belanda dan pada umumnya. Museum ini berdiri pada tahun 1986 dan dapat ditemukan di Kota Utrecht, Belanda. Namun, sayang, sebelum memasuki tiga dekade keberadaannya, MuMa terpaksa tutup pada 2012 akibat kekurangan dana.

BelindoMag mendapat kesempatan bertemu dengan Glenn Haulussy, Kepala Yayasan MuMa, untuk membicarakan lebih lengkap tentang MuMa serta keadaan masa depannya.

1. Bagaimana asal-usul didirikannya MuMa?

Museum ini didirikan pada tahun 1986. Pemerintah Belanda ingin membangun sebuah monumen hidup buat masyarakat Maluku di Belanda. Atas alasan itu, pihak pemerintah menyumbangkan sebuah bangunan (yang kini menjadi museum) dan sejumlah uang untuk beroperasi. Tujuan dari museum ini agar tidak melupakan dedikasi para tentara KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger) dari Maluku yang datang ke Belanda pada 1951.

2. MuMa ingin terus menjaga serta melestarikan sejarah dan budaya Maluku meskipun gedungnya telah resmi ditutup pada 2012. Kegiatan-kegiatan seperti apa yang telah dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut pada tahun 2014?

Kami bekerja sama dengan beberapa gemeente (kotamadya) di Belanda dalam kegiatan tahunan bernama “Historie 21”. Saat itu, gemeente dari beberapa kota bersama warga Maluku memperingati kedatangan kapal pertama di Belanda pada 21 Maret 1951 dan yang terakhir pada 21 Juni 1951. Selain itu, warga Maluku dan Belanda, tua maupun muda, diwawancarai tentang kehidupan masyarakat Maluku selama 63 tahun terakhir.

Kegiatan budaya Maluku juga diselenggarakan pada Festival Tong Tong 2014. Acara-acara musik seperti penampilan perkusi terkenal Nippy Noya bersama DJ Rob Manga, pemutaran lagu-lagu tahun 70-an dan 80-an, dan ada juga acara khusus orang-orang lanjut usia.

Kami juga mengadakan sebuah acara pertemuan yang berjudul “Inspiring Sessions” yang dihadiri para pemuda berbakat asal Maluku. Acara tersebut diadakan di Istana “de Witte”, Wassenaar. Tujuan dari acara ini adalah untuk menghubungkan pemuda Maluku satu sama lainnya.

Pada bulan Oktober 2014 dalam rangka Bulan Sejarah, kami bekerja sama dengan Museum Bronbeek, di Arnhem, untuk menyelenggarakan tema “Kawan dan Lawan (teman dan musuh)” yang berfokus pada tentara-tentara KNIL.

3. Kolaborasi apa yang paling istimewa menurut Anda?

Ini sangat sulit. Menurut saya, acara Historie 21 merupakan acara yang menarik. Saya sendiri berada di Lunteren, salah satu kota yang berpartisipasi dalam acara tersebut. Warga Lunteren menghargai kerja sama dan hidup berdampingan dengan masyarakat Maluku. Acara tersebut berlangsung sangat positif. Semua orang diwawancarai, ada sesi foto bersama, dan sebagainya. Acara tersebut adalah sebuah “eye opener” bagi saya.

4. Ikatan kerja sama dengan mitra-mitra eksternal dianggap penting buat museum ini. Bagaimana Anda melihat kerja sama dengan organisasi-organisasi Indonesia/Indisch di Belanda?

Sangat positif. Kita memang harus aktif mencari berbagai peluang kerja sama. Lembaga-lembaga sejarah-budaya perlu saling bekerja sama agar mendapat nilai tambah. Kami sekarang tengah bekerja sama dengan Museum Bronbeek dan Nationaal Openlucht Museum (NOM) yang keduanya terletak di Arnhem.

MUSEUM MALUKU

5. Anda berharap bisa bekerja sama dengan organisasi-organisasi seperti apa dalam jangka waktu dekat ini?

Kami berharap ikatan kami dengan Indonesia, khususnya dengan Maluku, dapat menjadi lebih dekat. Alangkah baiknya jika kami bisa berkolaborasi dengan Museum Siwalima di Ambon.

6. Cara-cara lain seperti apa yang dilakukan pihak museum agar koleksi warisan Maluku tetap hidup?

Kami memiliki website yang bisa dikunjungi dan seluruh koleksi kami saat ini sudah dalam bentuk digital. Keadaan memang menuntut kami untuk mencari sumber pendapatan alternatif. Kami sudah tidak lagi mengharapkan bantuan dari pemerintah, jadi kami harus melakukannya sendiri. Kami sangat bergantung pada sumbangan pihak ketiga dan kegiatan yang dapat menghasilkan uang. Kami juga menyediakan pameran-pameran yang sifatnya mobile, di mana orang dapat menyewanya dengan biaya kecil. Ini banyak digunakan oleh komunitas Maluku dalam kegiatan-kegiatannya.

7. Apakah ada rencana untuk membuka kembali MuMa?

Saya harus sangat berhati-hati dengan hal ini. Dewan mengatakan bahwa rencana tentang masa depan museum baru bisa ditentukan pada akhir tahun atau awal tahun 2016. Kini, ada pikiran untuk membangun sebuah bangunan di mana orang dapat kembali. Mungkin semacam rumah Maluku? Tapi, ini harus menguntungkan karena biaya kami sangat rendah. Pihak dewan ingin bekerja sama dengan organisasi lain untuk merealisasikan tempat tetap. Misalnya, menyewa sebagian ruang dari museum lain sementara hasil dari penjualan tiket akan dibagi bersama.

8. Apakah Anda punya pesan buat para pembaca BelindoMag?

Kunjungilah website kami dan jangan lupa daftar buat newsletter untuk mendapatkan kabar dan info terkini. Kami juga dengan senang hati ingin mendengar ide-ide dan masukan yang segar tentang berbagai macam peluang kerja sama.

 

Yayasan Museum Sejarah Maluku
Kantor: Oud Wulfseweg 1, 3992 LT Houten
030-2367116
info@museum-maluku.nl
www.museum-maluku.nl

 

Share.

About Author

Leave A Reply