Wawancara Rob Hammink: “Hanya ada satu jodoh. Ini sebuah cinta yang mustahil. “

0

Oleh: Natasha Nordin

Rob Hammink adalah tipe orang yang gemar berjelajah. Sebagai jurnalis di De Telegraaf ia melakukan perjalanan ribuan kilometer dan mengalami hal-hal yang hanya kita bisa bayangkan. Menerbangkan pesawat, bersepeda menelusuri bekunya Sungai Lena di Siberia, dikejar ratusan tentara anak kejam di Republik Demokratik Kongo… apa pun itu ia telah mengalaminya. Tapi, jika ia tidak tengah mempertaruhkan nyawanya dalam bahaya, pria penggemar rendang asal Amsterdam ini gemar menulis novel. Hingga saat ini, Rob telah menerbitkan Waanzin (1997), Verval, (2001), dan Jodoh (2007).

Yang terakhir, Jodoh, adalah sebuah novel semi-otobiografi. Buku ini terinspirasi oleh kehidupan ayahnya di masa Hindia-Belanda serta hubungan cintanya dengan seorang wanita Indonesia bernama Annie The. Seperti yang diutarakan dalam judulnya, buku ini berpusat pada pencarian akan kekasih yang sempurna, sebuah konsep yang bahkan Rob (yang usianya sudah kepala lima) sendiri belum temukan dan taklukkan.

Untungnya, kami dari BelindoMag mendapat kesempatan untuk bertemu Rob dan berhasil menggali lebih dalam tentang kehidupan serta pandangannya tentang “Jodoh”.

1. Tolong beri tahu kami mengapa Anda Belindo? Apakah koneksi Anda terhadap Indonesia?
Ayah saya seorang tentara di Padang, Indonesia, dan bertugas di sana selama 2,5 tahun. Ketika saya berusia 2 tahun, ia meninggal di Curacao akibat kanker paru-paru di usia 36. Jadi, saya tidak mengenalnya, tapi saya mengidolakannya.

Ada sebuah kotak di kamar saya yang ditutup dengan kain batik. Saya selalu takut untuk membukanya karena saya pikir mayat ayahku berbaring di sana. Baru saat berusia 19, saya memberanikan diri membukanya. Yang saya temukan adalah sebuah pipa rokok, jam tangan yang langsung saya pakai, beberapa buku, dan sebuah buku harian. Ternyata ayah saya menulis buku hariannya ketika ia juga berusia 19 tahun. Ketika saya angkat, foto-foto berjatuhan keluar, termasuk fotonya Annie The. Dalam buku hariannya ia gambarkan secara rinci kehidupannya di Indonesia. Sejak saat itu, saya menjadi tertarik pada negara ini. Dan sejak saya mulai bekerja, saya menabung untuk bisa mengunjungi Indonesia.

2. Tempat-tempat apa saja yang pernah Anda kunjungi?
Ketika pergi ke Indonesia untuk pertama kalinya, saya pergi dengan pacar. Dia orang Indonesia keturunan Cina. Indonesia sangat memukau dan benar-benar berbeda dari Belanda. Di sini, orang-orang cenderung memiliki mulut besar sementara di sana mereka lebih lemah lembut. Boleh dikatakan dua peradaban yang berbeda.

Tempat yang pertama kali saya kunjungi adalah Bali. Kemudian disusul oleh beberapa tempat lainnya, seperti Jawa, Maluku, Sulawesi, menyelam di Bunaken dan menyelamatkan orangutan di Kalimantan. Selain itu, saya juga pernah mengunjungi Sumatera, tempat saya menulis draft pertama novel Jodoh.

3. Di antara semua itu, di mana tempat favorit Anda? Mengapa?
Jakarta. Saya orangnya lebih suka pergi ke hutan daripada laut. Jakarta ibaratnya sebuah hutan. Jika berjalan di sana Anda akan merasakan mistisnya, kejutannya meskipun atau berkat kekacauannya. Ada banyak desa yang saling terhubung. Jakarta adalah kota penuh ekstrem. Di sana Anda bisa menyaksikan, misalnya, ayam-ayam yang ditumpuk bak piramida di sepeda motor yang melaju di depan showroom dealer Rolls Royce. Kota ini terus mengejutkan. Dan itu menarik karena saya tipe orang yang cepat bosan.

Foto Annie The yang tersimpan dalam buku harian mendiang ayahnya

Salah satu foto Annie The yang tersimpan dalam buku harian mendiang ayahnya

4. Mari kita bicarakan tentang buku Anda Jodoh. Jelaskan buku ini dalam beberapa kalimat.
Hanya ada satu jodoh. Ini sebuah cinta yang mustahil. Ketika membaca tentang Annie dalam buku harian ayah saya, saya diperkenalkan dengan cinta sejati. Hal itu baru bagi saya karena saya hidup seperti Don Juan. Pacar saya harus sempurna! Sportif, cantik, cerdas. Hal ini tidak mungkin, tentu saja. Saya ingin menemukan cinta yang sempurna, tapi siapa yang bisa memberi tahu saya tentang hal itu? Annie The.

5. Anda pergi ke Indonesia untuk mencari Annie The. Apakah pencarian tersebut berhasil?
Annie The bagaikan blok bangunan yang melengkapi hidup ayah saya. Ini pun demikian buat saya. Rasanya beda jika orang lain berbicara tentang ayah saya. Saya ingin menciptakan visi sendiri tentangnya. Selain itu, saya ingin mencari resep untuk cinta sejati. Saya ingin menanyakan resep rahasia antara dia dan ayah saya.

Pada akhirnya, saya tidak pernah menemukan Annie The. Sayang sekali karena dalam ribuan pikiran di benak saya ia hidup. Hal itu terkumpulkan dalam buku saya. Saya katakan padanya: “Apakah kamu buta? Ayah saya tidak pernah menyebutnya.” Jawabnya: “Betul, saya buta sejak lahir. Buat apa dia perlu mengungkapkannya?” Cinta ternyata bukan tentang pencarian kesempurnaan. Cinta sejati adalah tentang penerimaan tulus terhadap ketidaksempurnaan, begitu banyak sehingga Anda tidak melihatnya lagi.

6. Karakter Chris dalam buku ini didasarkan pada diri Anda.  Berapa banyak dari kepribadian serta pandangannya sama dengan Anda?
Sekitar 80%, ini lebih mudah untuk menulis. Dan saya ingin dialog antara dua orang yang tidak saling mengenal, tapi saling terkait satu sama lainnya.

7. Apakah pandangan Anda tentang Indonesia berubah selama penulisan novel ini?
Ya, pada awalnya saya memiliki gambaran yang sempurna. Semakin sering saya pergi, semakin jelas kenyataannya. Itu lebih karena saya sering ke sana, bukan karena novel tersebut. Saya melihat banyak perubahan. Sebelumnya, ikatan keluarga di Indonesia sangat kuat, tapi sekarang fokusnya para generasi muda adalah pada diri sendiri. Dengan maraknya telepon genggam dan tablet, dunia nyata tertahankan. Di Belanda, terjadi kebalikan. Di sini, perawatan terhadap orang lansia semakin dipentingkan. Setidaknya, itulah yang diharapkan terjadi.

Sampul buku Jodoh (2007)

Sampul buku Jodoh (2007)

8. Apa pendapat Anda tentang kata “jodoh” dan bagaimana Anda mengartikannya dalam kehidupan Anda sendiri?
Dulu saya melihat kesempurnaan dalam keindahan. Sekarang definisi saya tentang keindahan lebih luas. Sebelumnya saya ingin mobil tua, tapi gagang setirnya harus mengilap dan warna bagus. Sekarang, saya bisa membeli sebuah sepeda motor militer tua sambil berpikir, “Indahnya gagang setir yang berkarat.” Jadi, saya belajar menerima bahwa tidak semua harus sempurna. Malah lebih baik tidak sempurna. Ketidaksempurnaan memberikan celah-celah yang dapat kita pegang, sementara kesempurnaan mudah terselip.

9. Apakah ada hal lain tentang buku ini yang ingin Anda tambahkan?
Buku ini diwarnai dengan kilas balik tahun ’47, ’48, dan ’49. Novel ini menggunakan latar belakang indah dari dua negara berbeda, dilihat melalui dua mata orang dari usia yang sama, namun hidup dalam waktu yang berbeda. Pembaca dari latar belakang mana pun akan dapat menikmatinya.

10
. Buku Anda telah ditulis ulang menjadi naskah film dan Anda juga mencari produser. Bagaimana status dari proyek ini?
Saya bertemu dengan penulis naskah film Maggie McDermott dari New York dan bercerita tentang buku saya. Dia sangat tertarik. Saya berikan dia potongan-potongan dari buku saya dalam bahasa Inggris. Kemudian ia terjemahkannya ke dalam bentuk naskah film. Buku saya dimulai dengan seorang pendeta yang taat di kuil. Naskahnya Maggie dimulai dengan seorang pemuda yang kecanduan seks karena lebih cocok buat film (tertawa). Ah, setiap vak memang berbeda.

Proses terjemahannya dimulai pada tahun 2008. Kemudian masa krisis dimulai sehingga proyek terhenti, meskipun dapat sewaktu-waktu dihidupkan kembali. Mungkin sebaiknya ada investor. Karena relasi antara dua pemuda dan dua negara, Belanda dan Indonesia, tetap memikat.

rob meditating

11. Apakah proyek Anda saat ini dan masa depan?
Saya ingin Jodoh diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Seorang teman, yang sudah berusia sekitar 80 tahun, sedang sibuk mengerjakannya. Dia kadang-kadang berkata, “Eh Rob, mungkin bagian tentang seks ini tidak begitu cocok buat di Indonesia. Kita akan mengubahnya sedikit, ya?” (Rob mengucapnya dalam aksen Indonesia). Selain itu, saya ingin mengerjakan buku keempat saya: ‘Made in China.’

12. Apakah ada pesan dari novel Jodoh yang ingin dipahami pembaca?
Kebanyakan orang selalu ingin lebih banyak dan lebih baik. Dalam perjalanan menuju tempat yang ideal itu, kita kadang lupa menikmatinya. Untungnya, saya tidak lagi seperti itu berkat meditasi dan hidup dalam momen saat ini. Beberapa tahun terakhir, saya bersyukur akan keindahan-keindahan kecil dan memandang keeksistensian dan manusia tinggi nilainya.

 

Penasaran dengan novel Jodoh? Anda bisa segera pesan lewat website ini!

Website pribadi: RobHammink.com

 

Share.

About Author

Leave A Reply