Lombok: mutiara dunia yang menakjubkan

0

Oleh: Halid Nordin

Sudah sering saya dengar cerita yang bagus tentang Lombok, pulau yang sering disebut sebagai “pulau 1.000 masjid” itu (saya akan kembali pada hal ini nanti). Lombok berada di bagian timur Pulau Bali dan, menurut sejarah, ia pernah menjadi bagian dari kekuasaan kerajaan Bali. Tentu saja, berbicara tentang Lombok saya tidak lupa menyebut Kepulauan Gili yang terkenal itu, dicintai oleh turis-turis lokal maupun mancanegara. Meskipun pernah tinggal setahun di Bali, saya belum pernah mengunjungi Lombok ataupun Kepulauan Gili. Tapi, dalam perjalanan ke Indonesia kali ini–bersama istri dan dua anak–saya masukkan keduanya ke dalam jadwal padat liburan kami. Bukan keputusan yang salah.

Lombok yang hijau alami

Tidak seperti Bali, Lombok tidak dipadati oleh banyak turis dan masih banyak ladang sawah yang terlihat di sepanjang jalan. Selain penghasil utamanya di sektor pertanian, Lombok adalah produsen mutiara laut selatan terbesar di Indonesia. Mutiara laut selatan ini dikenal memiliki kualitas yang tinggi dan permintaannya di seluruh dunia sangat besar.

Lombok: ’s werelds meest prachtige parel

Lombok yang masih hijau alami

Di Lombok, Anda juga tidak akan melihat hotel-hotel yang berjejeran di sepanjang pinggiran pantai seperti di Bali. Sebagian besar hotel hanya dapat ditemukan di Kota Senggigi, di pesisir barat pulau, yang juga merupakan daerah tujuan kami. Kami memesan Hotel Riverside melalui Booking.com. Kami memilihnya karena situs tersebut memberinya empat bintang dan angka 8/10 dengan ulasan-ulasan positif dari para pengunjung.

Dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, kami terbang dengan Lion Air menuju Bandara Internasional Lombok. Bandara ini berada di dekat Mataram, ibukota Lombok, dan diperlukan kurang-lebih satu jam untuk mencapai hotel. Biaya taksi yang dikeluarkan saat itu sekitar Rp200.000 (setara dengan €14 -).

Tapi, setibanya di hotel kami sempat agak terkejut. Apakah kami berada di hotel yang tepat? pikir kami saat itu. Karena hotel yang kami lihat tidak tampak seperti hotel berbintang empat pada umumnya. Di depan tempat parkir ada warung makan kecil yang terbuka, bangunan tampak kurang terawat, dan tidak ada lobi. Hmmm, kita tertipu, pikir saya awalnya. Saat itu, seorang ibu menghampiri kami dan meminta kami menunggu hingga sang pemilik datang untuk menerima kami secara pribadi. Kebetulan ia sedang berada di restoran pribadinya. Setelah sekitar 5 menit, datanglah ia, Pak Rocky namanya, dengan sepeda motor dan senyuman yang lebar. Ia pria yang sangat ramah dan langsung membawa kami ke kamar. Kamar kami sangat luas, bersih dan nyaman dengan dapur sendiri. Untung bagi kami, kamarnya terletak persis di samping kolam renang. Memang, hotel ini tampak tidak begitu mewah dari luar, tapi semua fasilitas yang Anda harapkan dari sebuah hotel berbintang empat tersedia di sana. Kekuatan hotel ini juga terletak di segi keramahan para staf hotel. Pak Rocky dan timnya berusaha membuat kami senyaman mungkin selama di sana. Untuk alasan ini, saya juga setuju jika hotel ini diberikan empat bintang.

Lombok: ’s werelds meest prachtige parel

Lombok bisa juga disebut sebagai “pulau dengan 1000 bukit”

Sayangnya, di lingkungan hotel tidak ada banyak aktivitas yang bisa dilakukan. Perjalanan ke pusat kota Senggigi butuh waktu kira-kira 5 menit kalau naik mobil. Selain itu, tidak ada pantai yang bagus di dekat hotel dan perlu naik mobil untuk mengunjungi pantai-pantai yang lebih baik. Kami memilih menyewa mobil beserta sopir untuk pergi ke Pantai Nipah, terletak sekitar 20 menit utara dari Senggigi. Di sana, Anda bisa berenang dan juga menikmati hidangan ikan segar yang dibakar di pantai. Sangat ideal bagi penggemar ikan laut!

Kemegahan dan keindahan pantai selatan

Pantai-pantai yang paling menakjubkan di Lombok terletak di selatan, seperti pantai Tanjung Ann, Mawun dan Seger. Semua pantai tersebut berpasir putih dengan laut biru kehijauan. Tanjung Ann adalah pantai yang paling luas dan mengagumkan, sementara pantai Mawun paling enak untuk berenang. Ketiganya perlu dikunjungi!

Untuk ke sana perlu sekitar 1,5 jam dari Senggigi dengan mobil. Sebaiknya Anda sewa mobil bersama sopir dan itu bisa disewa di hotel. Harga sewa sekitar Rp700.000 (atau €50), termasuk biaya sewa mobil serta ongkos sopir dan bensin selama 1 hari. Harganya pun bisa berbeda jika ingin gunakan hingga malam hari, tapi tidak akan lebih daripada Rp800.000.

Menuju pantai selatan, Anda akan melewati Sade, sebuah desa suku asli Lombok, Sasak. Masih ada beberapa desa tradisional yang bisa ditemukan di sana. Masyakarat Sasak terdiri dari 2,6 juta orang dan merupakan 85% persen dari jumlah total penduduk Lombok. Pada akhir abad ke-16 sampai permulaan abad ke-17, masyarakat Sasak menganut agama Islam dan sejak itu mereka membangun banyak masjid di seluruh pulau. Oleh karena itulah Lombok sering disebut sebagai “pulau dengan seribu masjid”.

Gadis Sasak tengah membuat kain songket

Gadis Sasak tengah membuat kain songket

Di desa khas suku Sasak ini, rumah-rumahnya masih dibangun secara tradisional yang dibuat dari bambu dan kayu dengan atap jerami. Tidak ada listrik di rumah mereka dan makanan juga masih dimasak secara tradisional. Di sana, Anda dapat melihat cara pembuatan kain songket secara langsung. Sangat unik untuk dilihat, tapi di saat yang sama kami merasa bahwa tempat tersebut menjadi terlalu komersial.

Gili Nanggu: oasis yang penuh damai

Perjalanan ke Lombok sepertinya belum komplit tanpa mengunjungi salah satu pulau dari kepulauan Gili. Oleh karena itu, kami rencanakan mengunjungi kepulauan Gili untuk hari terakhir kami. Kata Gili berasal dari bahasa Sasak yang berarti “pulau kecil”. Kebanyakan orang sudah pernah dengar tentang 3 pulau Gili: Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan yang terletak di pantai barat laut Lombok. Ketiga pulau tersebut memang sangat indah, tapi juga sangat ramai oleh wisatawan. Jika ingin ke sana, Anda bisa gunakan kapal feri. Dari Senggigi Anda bisa naik taksi ke pelabuhan dan minta diturunkan di dekat kapal feri, bukan di pinggir pelabuhan karena jaraknya masih cukup jauh untuk berjalan ke kapal feri. Anda juga bisa menyewa kapal sendiri, tapi pilihan ini memang lebih mahal.

Kami kurang tertarik mengunjungi ketiga pulau Gili yang terkenal itu dan ingin mencari alternatif pulau lain. Ada sebanyak 30 kepulauan Gili dan beberapa pulau masih kurang turistik yang bisa dijadikan pilihan. Tapi, tentu saja untuk sampai ke pulau-pulau tersebut juga membutuhkan waktu yang cukup lama.

Gili Nanggu

Pemandangan Gili Nanggu dari perahu kami

Pilihan kami akhirnya jatuh pada Gili Nanggu. Dari Senggigi dengan mobil memakan waktu sekitar 1,5 jam, dan tidak ada kapal feri jadi Anda harus menyewa kapal sendiri. Tapi, percayalah, perjalanan Anda tidak akan membosankan. Anda akan melewati Pelabuhan Lembar dan Sekotong dan akan disuguhkan pemandangan-pemandangan bukit yang luar biasa menawan. Anda juga akan melewati desa-desa dan menyaksikan cara hidup penduduk lokal. Melihat banyaknya bukit yang kita saksikan dan lalui selama ini, Lombok sebenarnya juga bisa disebut sebagai “pulau dengan seribu bukit.”

Dari Sekotong Barat, Anda bisa menyewa perahu kecil ke Gili Nanggu yang harganya sekitar Rp300.000 (kira-kira €20). Maksimum penumpang kapal berjumlah 6 orang. Ingat, harganya per kapal bukan per orang. Kasir akan mencoba membuat Anda membayar harga itu per orang karena mereka juga telah mencobanya dengan kami. Supir perahu mendapatkan bagian dari harga penyewaan kapal. Saya tidak tahu seberapa banyak, tapi jangan lupa berikan sedikit tip buatnya.

Untuk menuju Gili Nanggu dibutuhkan sekitar 15 menit. Di sana, hanya ada satu tempat penginapan dan, untung buat kami, di pagi hari pantai masih sepi. Sepi sekali. Kami benar-benar merasa seolah-olah berada di pantai milik pribadi. Dan kecantikan pulau ini sudah tidak perlu ditanyakan lagi. Jika Anda berenang ikan-ikan laut akan berenang bersama Anda. Jangan lupa bawa alat snorkeling. Anda bisa meminjamnya di hotel atau menyewanya saat bayar tarif perahu di kasir.

Lombok: ’s werelds meest prachtige parel

Tanjung Ann, salah satu pantai paling menawan di Lombok

Gili Nanggu benar-benar saya rekomendasikan jika Anda ingin merasakan pengalaman berada di sebuah bounty island. Pergilah di waktu pagi selagi masih sepi, tapi jangan khawatir pulau tersebut tidak akan seramai ketiga pulau Gili yang terkenal itu.

Lombok: sampai jumpa lagi

Menurut saya, Lombok bagaikan mutiara indah yang masih tersembunyi di dasar laut. Masih banyak keindahan yang perlu digali dan temukan di sana. Tinggal beberapa hari di Lombok tidak cukup karena ada banyak tempat yang belum sempat kami kunjungi, seperti Pink Beach di kawasan timur dan Gunung Rinjani, yang merupakan gunung merapi tertinggi kedua di Indonesia. Tentu saja, ini menjadi alasan bagus untuk kembali ke Lombok, dan kami pasti akan kembali!

 




Share.

About Author

Leave A Reply