Proyek kakao organik La Galigo merintis cokelat sehat bertanggungjawab di Festival Chocoa Amsterdam

0

Oleh: Wati Chaeron

Festival Chocoa adalah festival tahunan sebagai tempat pertemuan para produsen, pengusaha, ilmuwan, konsumen, dan pecinta cokelat. Tahun ini, Festival Chocoa berlangsung dari tanggal 20 sampai dengan 24 Februari di gedung bursa efek bersejarah, Beurs van Berlagen di Amsterdam. Di tempat inilah produk-produk tropis seperti rempah-rempah, kopi, gula dan juga kakao pertama kali dijualbelikan di Belanda di awal abad ke-20.

Indonesia merupakan negara ketiga penghasil kakao di dunia setelah Ghana dan Pantai Gading. Meskipun demikian, Indonesia tengah menghadapi beberapa tantangan mondial. Perubahan iklim, berkurangnya ketertarikan orang untuk bertani, dan produktivitas lahan perkebunan kakao yang masih rendah merupakan tantangan terpenting yang mempengaruhi nasib pasar kakao. Untuk menanggulangi permasalahan ini diperlukan cara-cara inovatif dalam sistem perlahanan dan pada tahap pasca panen. Yayasan La Galigo telah menyaksikan masalah ini di Sulawesi dan ingin mengajukan konsep perlahanan berbasis organik dengan pendekatan tanaman heterogen (multicrop) sebagai solusi yang berkelanjutan untuk sektor kakao di Indonesia.

Pendekatan sistem alami ini juga mendapatkan inspirasinya dari cerita rakyat La Galigo dari suku Bugis di Sulawesi Selatan. La Galigo merupakan karya sastra epos terpanjang di dunia yang ditulis dalam bahasa dan tulisan abjad Bugis. Cerita rakyat yang sudah dikenal dari abad ke-15 ini mengandung hikmah mengapa kita harus menjaga keseimbangan hidup antara manusia dan alam. Pada tahun 2011 naskah La Galigo menerima pengakuan dari UNESCO sebagai salah satu karya yang terdaftar dalam arsip karya sastra dunia (Memory of the world).

Fokus utama Proyek Kakao Organik La Galigo adalah menjaga keseimbangan antara usaha manusia dan pelestarian alam. Awalnya inisiatif ini dikembangkan oleh Fatima Spalburg, pendiri Yayasan La Galigo, yang telah menjenguk keluarganya di Sulawesi untuk pertama kalinya pada tahun 2016. Keluarganya berasal dari Luwu, Sulawesi Selatan, dan sebagian besar merupakan petani kakao. Sayangnya, seperti kebanyakan kehidupan petani kakao di seluruh Indonesia, tantangan seperti kemiskinan, harga jual-beli yang rendah, timbulnya penyakit tanaman kakao, penggunaan pestisida, dan kurangnya ilmu pasca panen untuk menghasilkan kakao berkualitas juga dihadapi keluarga Fatima. Meskipun demikian, petani-petani ini memiliki motivasi besar untuk memperbaiki keadaannya. Mereka ingin bertani organik karena mereka percaya sistem organik akan memberikan hikmah besar untuk manusia dan alam.

Segi kepahaman para petani tentang pertanian organik meningkat atas pengarahan yang diberikan oleh para pakar dari Rikolto dan Rainforest Alliance. Tujuan proyek La Galigo mencakup peningkatan kapasitas (capacity building), perdagangan yang adil, kesehatan petani, proses pertanian organik, dan pelestarian alam. Selain itu, sebuah Kebun Percobaan akan diterapkan sesuai prinsip agroforestry. Prinsip ini merupakan sistem pengelolaan lahan untuk mengatasi masalah ketersediaan lahan dan peningkatan produktivitas lahan dengan cara membudidayakan tanaman kehutanan bersama tanaman pertanian. Sistem agroforestry ini membawa banyak faedah karena tidak hanya meningkatkan produktivitas berbagai macam produk pertanian tapi juga menjaga keseimbangan alam.

Pada tahap awal pendirian Yayasan La Galigo, Fatima berhasil menarik banyak sukarelawan dan simpatisan.  Banyak orang menyetujui filosofinya dan mereka ingin berkontribusi untuk memperbaiki kondisi produksi cokelat yang digemari banyak orang. Pemikiran ini telah melahirkan sebuah gerakan grassroot. Untuk memfasilitasi gerakan ini, proyek La Galigo berikhtiar untuk mendirikan pusat pengetahuan dan ekowisata sebagai tempat menukar pengalaman dan pikiran.

Akhir kata, pekan raya seperti Festival Chocoa di Amsterdam adalah event yang paling tepat untuk menunjukkan usaha dan inisiatif yang ingin terjun dalam sektor kakao yang sagat dinamis ini. Proyek Kakao Organik La Galigo mendapatkan kesempatan memberikan presentasinya untuk merintis momentum. Dari sinilah dimulai perjalanan Yayasan La Galigo yang penuh ambisi dan visioner, dengan harapan pecinta cokelat dapat menikmati cokelat yang tidak hanya lebih bergizi namun juga bertanggungjawab.

Untuk informasi lebih lanjut, adopsi pohon kakao atau memberi donasi:

www.lagaligofoundation.com atau kirim e-mail ke info@lagaligofoundation.com

SHARE.

About Author

Leave A Reply