Romualdo Locatelli (1905 – 1942/1943), kisah cinta pelukis kelas dunia dengan kecantikan Indonesia

0

Oleh: Wati Chaeron

Pada hari Rabu tanggal 7 Agustus 2019, KBRI Den Haag telah melaksanakan acara press lunch peluncuran buku biografi pelukis Italia Romualdo Locatelli yang ditulis oleh Gianni Orsini. Venue yang dipilih kali ini sangat mengesankan indera mata dan lidah, yaitu Ron Gastrobar Amsterdam Downtown. Rumah makan berkonsep gastrobar (persilangan antara café dan restaurant) ini memberikan citra modern makanan-makanan tradisional Indonesia.

Bapak Dubes I Gusti Agung Wesaka Puja menyambut para tamu dengan penjelasan bahwa beliau, sebagai penggemar seni, mementingkan para duta bangsa untuk tetap menjadi promotor aktif akan kesenian Indonesia. Beliau mengungkapkan rasa bangga dan syukur mengadakan press lunch ini di depan para media di Belanda untuk memperkenalkan buku biografi Locatelli, dengan keunggulan karya-karya seninya di Indonesia. Menurut Pak Puja, Locatelli membawa tiga unsur menarik dalam kehidupannya sebagai pelukis, yakni: misteri, kemenduaan dan imajinasi. Unsur-unsur inilah yang membentuk keunikan karya dan kehidupan sang pelukis.

Dubes I Gusti Agung Wesaka Puja bersama Gianni dan keluarga Orsini

Dalam presentasi bukunya, ‘Romualdo Locatelli, Eternal Green under an Eternal Sun’, Orsini menjelaskan bahwa dalam era dekolonisasi kesenian Indonesia sebenarnya tidak digemari oleh dunia seni di Belanda. Namun, karena ekonomi di Asia Tenggara mengalami perkembangan yang pesat, pecinta seni Indonesia tertarik untuk membeli karya-karya lukisan Indonesia. Nilai lukisan-lukisan Indonesia menjadi hot. Banyak karya-karya seni Indonesia digemari rumah lelang di Belanda, contohnya Venduehuis di Den Haag serta Zeeuws Veilinghuis di Amsterdam/Middelburg. Di rumah lelang inilah karya-karya para pelukis Indonesia, di antaranya Locatelli, dapat ditemukan.

Locatelli lahir di kota Bergamo, Italia Utara, pada tahun 1905. Kota tersebut sudah dikenal sebagai sarang pemakar pelukis kelas dunia. Locatelli pun berasal dari keluarga pelukis terkenal yang sering diajak bapaknya, Luigi Locatelli, untuk menciptakan lukisan-lukisan dinding (fresco) berformat besar sebagai bagian dekor gereja.

Orsini menjelaskan bahwa karier Locatelli tumbuh pesat sejak ia mendapatkan nominasi Prince Umberto Grand Prize, sebuah penghargaan bergengsi di Italia, di usianya yang 20 tahun. Locatelli kerap dikenal dalam lingkungan kardinal, kerajaan, dan tokoh-tokoh politik.

Atas undangan pecinta seni orang Belanda yang telah mengenalnya saat acara pameran di Amerika, Locatelli beserta istrinya tergerak untuk menjelajahi tanah Hindia Belanda pada tahun 1939. Sejak itu, Locatelli kagum atas keindahan alam Indonesia serta kehangatan penduduknya. Setelah mengeksplorasi Jawa, beliau pindah ke Bali. Di sanalah lukisan-lukisannya memiliki sifat yang lebih dinamis dan ekspresif. Beberapa lukisan Locatelli terpajang di dinding Istana Merdeka. Sebagai penggemar, Presiden Soekarno menganjurkan para pelukis Indonesia membuat replika untuk mempelajari teknik lukisan Locatelli. Hadir pada acara press lunch, ‘Gadis Jawa’ milik keluarga Belanda, dimana teknik melukisnya telah mempengaruhi pelukis-pelukis kontemporer Indonesia.

Di tahun 1940, Locatelli pindah ke Manila, Filipina, di mana beliau secara misterius menghilang saat menjelajahi alam hutan. Asumsi Orsini adalah beliau ditangkap oleh Jepang atau Amerika karena terduga sebagai mata-mata.

Walaupun hasil lukisan Locatelli di Indonesia kurang dikenal di Eropa, namun tahun ini telah terjual salah satu lukisan wanita Bali dengan nilai 600.000 euro dari Hongkong. Oleh karenanya, Orsini berharap keminatan dan perhatian karya lukisan Locatelli dapat ditingkatkan dan diapresiasi lebih luas.

Setelah menapak tilas kehidupan Locatelli, makan siang dihidangkan oleh Ron Gastrobar Amsterdam Downtown. Konsep bisnis kuliner ini mendapatkan tanggapan positif dari para penggemar makanan Indonesia. Makanan pembuka seperti taco kulit pangsit berisi tuna tartar dan daging tartar serta sate ayam lilitan sereh mencetuskan indra lidah para tamu. Kemudian melalui sajian rijsttafel, para tamu dapat menikmati rendang, sate ayam, sate kambing, sayur lodeh, telur balado, nasi goreng, sambal yang dilengkapi dengan pisang goreng dengan saus gula jawa. Sedangkan dessert merupakan sajian es krim markisa beserta cokelat mousse yang dibentuk seperti kacang tanah.

Pertemuan lukisan Locatelli dengan seni kuliner modern Indonesia memberikan kesan kekayaan seni yang memiliki nilai sublim berdimensi abadi. Tentunya, masih banyak contoh-contoh seni budaya Indonesia yang patut dihargai, dipertahankan, dan dieksplor. Dengan acara publikasi seperti pertemuan ini harapannya adalah agar dunia selalu akan tergerak untuk mempelajari dan mengapresiasi nilai kekayaan seni budaya Indonesia. Tentu, kerja sama pihak pemerintah Indonesia serta pihak masyarakat selalu harus ditingkatkan untuk melestarikan usaha promosi seni budaya kita.

Share.

About Author

Leave A Reply