Seminar “Indonesia and the Netherlands: a joint future” di Amsterdam siapkan masa depan emas buat kedua bangsa

0

Di salah satu gang kecil di sejajaran keramaian Jalan Rokin, terdapat sebuah gedung konferensi yang tersembunyi di antara kemegahan bangunan antik Kota Amsterdam. Namanya Vlaams Cultuurhuis de Brakke Grond. Seperti gedung-gedung lain di kota ini, gedung ini memiliki corak pembauran arsitek kuno dan kontemporer. Karakteristik desain ini senada dengan seminar yang berlangsung di sana, pada tanggal 18 Februari 2020 lalu, bertajuk “Indonesia and the Netherlands: a joint future”, di mana pembentukan haluan masa depan didasari atas kejadian-kejadian di masa lalu. Hubungan Indonesia-Belanda kini semakin erat berkat generasi muda yang saling mengulurkan tangannya untuk merujuk ke masa depan yang kreatif dan inovatif.

Seminar tersebut diselenggarakan oleh DutchCulture, sebuah organisasi yang menjalin jaringan dan kajian kerja sama Belanda dengan negara-negara internasional. Seminar ini terjalin untuk mempersiapkan delegasi kunjungan kenegaraan Kerajaan Belanda ke Indonesia yang akan berlangsung pada tanggal 10 sampai 13 Maret 2020. Seminar ini dihadiri oleh Raja Willem Alexander dan Ratu Máxima, Menteri Pendidikan Belanda Ingrid van Engelshoven, Duta Besar RI Bapak I Gusti Agung Wesaka Puja, para undangan delegasi Belanda, dan diaspora Indonesia.

Bapak Dubes Puja menyambut para hadirin dengan diplomasi yang mempesonakan karena beliau menggunakan banyak perumpamaan yang kerap didengar orang Belanda untuk menjembatani budaya. Namun, di dalam kandungan sambutannya terdapat juga makna yang mendalam. Beliau menggarisbawahi bahwa sejarah hubungan Indonesia-Belanda begitu teranyam akan dijadikan landasan membangun peradaban dan ini dapat diperoleh hanya kalau hubungan bilateral menghasilkan keuntungan yang timbal balik.

4 Tema Kunjungan Kenegaraan Kerajaan Belanda

Kunjungan kenegaraan Kerajaan Belanda mencakup empat tema, yakni: From past to future, Art and culture, Circular economy, Knowledge diplomacy. Sepuluh pembicara diberikan kesempatan untuk memberikan gambaran permasalahan yang dihadapi masing-masing bidang.

Tema From past to future membicarakan dampak sejarah terhadap kewibawaan bangsa Indonesia dan Belanda. Profesor Gert Oostindie dari Universitas Leiden dan penulis “Serdadu Belanda Di Indonesia 1945-1950; Kesaksian Perang pada Sisi Sejarah yang Salah” (2015) mengingatkan bahwa kunjungan kenegaraan ini akan berlangsung tepat saat Indonesia dan Belanda secara bersamaan akan merayakan 75 tahun kemerdekaannya masing-masing. Peringatan kemerdekaan inilah, walaupun dalam konteks dan kejadian dari dua sudut dunia yang berbeda, menimbulkan pemikiran-pemikiran kritis terutama pada haluan peperangan kolonial di Indonesia setelah 17 Agustus 1945. Menurut Oostindie, untuk meraih sebuah peaceful closure diperlukan wacana yang komprehensif dan intensif antar kedua negara.

Salah satu cara untuk mengkaji proses pemikiran kritis atas sejarah kolonialisme telah dikaji oleh Grace Leksana, seorang peneliti S3 dari Universitas Leiden. Leksana ingin mempelajari keterkaitan proses demokrasi dan peralihan kekuasaan terhadap pembentukan persepsi sejarah. Menurutnya, persepsi sejarah dapat mengandung interpretasi yang berbeda dan untuk mencapai konsensus persamaan nilai diperlukan kerja sama sejarawan dengan cara mengkaji semua pihak yang berperan dalam sejarah tersebut.

Di bawah tema Art and culture, Dries van Wagenberg, koordinator What If Lab, sebuah platform kreatif dan inovatif untuk para perancang produk, mewawancarai seorang perancang dari Indonesia Vivian Maretina. Vivian menjelaskan pengalamannya atas kesuksesan kerja sama dengan pemuda desainer Belanda dalam menangani permasalahan sustainability. Kesadaran rakyat atas polusi udara di Jakarta dijadikan salah satu proyek co-creation Vivian bersama mitranya Marleen Bergeijk. Mereka mencari jalan-jalan inovatif dan kreatif untuk meningkatkan kewaspadaan tingkat polusi agar rakyat dapat mengambil langkah-langkah perlindungan untuk mejaga kesehatannya.

Dari segi seni teater, Viktorien van Hulst, kepala Theatre festival Boulevard, mencoba menangani permasalahan sosial identitas masyarakat Maluku dan Indo di Belanda dengan membuka dialog. Dengan adanya dialog ini, anggapan-anggapan yang tidak benar dapat diluruskan sehingga kelompok satu sama lainnya dapat saling mengenal dan menelusuri persamaan masing-masing budaya.

Musik dunia bersama Boi Akih

Acara seminar diteruskan dengan musik dari Boi Akih, di mana Monica Akihary, penyanyi Belanda berdarah Maluku, mengalunkan suara merdunya dengan iringan gitar oleh Niels Brouwer. Dinamika nada suara yang bernuansa ethnical jazz dan melodi hangat petikan gitar menyedot nalar kita ke tempat elusif, pertemuan yang masih harus dijejaki bersama.

Terbangun dari pikiran melayang, akhirnya tibalah waktu untuk menyimak tema kunjungan kenegaraan yang berikutnya, yaitu Circular Economy. CEO Holland Circular Hotspot, Freek van Eijk, dengan tegas mengatakan bahwa Belanda adalah salah satu negara di dunia yang memiliki program ekonomi melingkar yang paling ambisius. Van Eijk memastikan bahwa formula ini memiliki model bisnis yang mendukung pembangunan berkelanjutan. Dengan adanya ekonomi melingkar, peningkatan ekonomi dapat berjalan tanpa menambahkan beban perilaku konsumen dan produsen terhadap penggunaan sumber daya alam yang semakin kritis.

Salah satu produk yang kerap dipergunakan dalam ekonomi melingkar adalah sampah plastik. Inisiatif yang telah memperkenalkan metode sederhana untuk mengumpulkan plastik sampah yang terapung di perairan seperti sungai atau kanal, adalah The Great Bubble Barrier. Co-founder Anne Marieke Eveleens menjelaskan kepada para hadirin bahwa metode ramah ikan dan ramah perahu ini menghindari plastik menjangkau ke lautan lepas secara efektif. Sampah plastik yang terkumpul dapat didaur ulang untuk dijadikan bahan dasar produk baru.

Setelah sekitar satu setengah jam berlalu, tema terakhir yang akan dibahas adalah Knowledge diplomacy. Mantan Menteri Pendidikan Jet Bussemaker, sekarang ketua Dewan Penasehat NUFFIC Program Orange Knowledge, menjelaskan pentingnya kerja sama Indonesia-Belanda dalam hal program tukar pelajar untuk memperluas wadah aliran ilmu pengetahuan yang dijadikan bahan bakar motor pembangunan kedua bangsa. Kemudian Bussemaker beralih mewawancarai Stella Juventia, salah satu peneliti Indonesia dari program pembelajaran di Universitas Wageningen. Sewaktu Stella ditanya Bussemaker untuk menjelaskan tentang pengalamannya, dengan antusiasnya ia bertutur tentang potensi kerja sama dalam bentuk knowledge sharing di bidang pembibitan, contohnya, yang telah melahirkan pengetahuan dan membuka pemikiran-pemikiran baru antar negara. Stella sendiri terlibat dalam proyek bernama Lighthouse farm, sebuah platform dengan konsep co-innovation yang terjalin di antara pakar tani internasional dalam menangani problematika pangan dunia.

Pembicara terakhir Wim van den Doel, ketua aliansi akademi Leiden-Delft-Erasmus mengutarakan bahwa kunjungan kenegaraan kali ini juga akan mengunjungi Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta untuk meninjau kerja sama akademik antara lain di dalam bidang biodiversitas dan hukum. Menurutnya fokus utama kerja sama akademia mencakup tema-tema yang merujuk kepada Sustainable Development Goals (SDGs) yang akan dijadikan tema utama dalam event WINNER (the Week of Indonesia-Netherlands Education and Research) di bulan Juni 2020.

Benang emas menenun hubungan Indonesia-Belanda

Seminar yang memicu rasa untuk membangkitkan hubungan Indonesia dan Belanda ini ditutup dengan penyerahan cinderamata dari Bapak Dubes RI Puja kepada Raja Willem Alexander dan Ratu Máxima. Kain tenun tradisional Ulos khas Batak mencorakkan tenunan benang emas yang gemilang. Benang emas inilah kita jadikan lambang kecemerlangan pandangan ‘Indonesia and the Netherlands: a joint future’.

SHARE.
Share.

About Author

In deze tijdperk van globalisering zouden we eigenlijk meer open moeten zijn voor de wereld, zonder te vergeten waar je vandaan komt. Als schrijver bij Belindomag wilt Wati aan de lezers laten zien dat onze toekomst optimist-verantwoord is. De creatieve en levendige culturele wortels van Nederland en Indonesië hebben Wati gevormd en zijn overigens ook de pilaren van onze maatschappij. Wij bepalen de koers van de toekomst op basis van onze gedeelde normen en waarden. “Ik ben Belindo die van de culturele dynamiek tussen Nederland en Indonesië houd, ik koester het respect en saamhorigheid van onze maatschappijen”.

Leave A Reply