Pameran Busana Batik digelar di Belanda

0

Setelah acara Pesta Rakyat (baca di sini), KBRI Den Haag melanjutkan perayaan HUT RI dengan acara fashion show bertajuk “Art, Culture & Performance” pada 7 September 2015 di Grote Kerk, Den Haag. Acara ini merupakan bentuk kerja sama KBRI Den Haag bersama Rumah Budaya Indonesia (RBI), Persatuan Dharma Wanita Belanda, dan didukung oleh grup budaya Warna Indonesia.

Sebagai salah satu warisan budaya Indonesia yang membanggakan, batik menjadi fokus utama acara fashion show tersebut. Meskipun tidak asing dengan batik, namun sebagian masyarakat Belanda masih melekatkannya sebagai busana formal. Melalui acara ini, pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa batik bisa dipakai secara casual dan untuk sehari-hari.

Koleksi batik klasik dan kotemporer dari dua desainer Tanah Air, Bapak Harry Rahmat Darajat (pemilik rumah mode Ai Syarief 1965) dan Ibu Anita Winata (pendiri rumah mode Tjantingkoe) dipamerkan di hadapan 200 tamu yang terdiri dari jurnalis, pemerhati fesyen, ekspatriat, dan pejabat Belanda. Busana-busana tersebut tidak diperagakan oleh model-model profesional, melainkan oleh ibu-ibu Dharma Wanita dan mahasiswa-mahasiswi Belanda. Hal ini sengaja dilakukan untuk menunjukkan bahwa batik juga dapat dipakai oleh orang-orang dari berbagai latar belakang dan usia.

Selain pameran busana batik, acara tersebut juga dimeriahkan oleh penampilan penyanyi Leo Mokodompit dan Elvi Zubaidah, bersama pertunjukkan tari persembahan, tari gandrung banyuwangi, dan tari topeng ireng.

 

 

Sumber: KBRI Den Haag

 




SHARE.
Share.

About Author

Leave A Reply