Pernikahan meriah adat Sunda digelar di Belanda

0




Di Indonesia, setiap daerah memiliki adat dan tradisi pernikahan sendiri. Di balik prosesi adat ini tersimpan makna-makna indah dan sakral. Sayangnya, tidak sedikit orang Indonesia yang menganggap bahwa ritual-ritual adat ini cukup ribet dan panjang hingga lebih memilih menggelar acara pernikahan yang ‘modern’.

Tapi, alangkah beruntungnya BelindoMag mendapat kesempatan langka untuk menyaksikan secara langsung sebuah prosesi pernikahan adat Indonesia, tepatnya adat Sunda, di Belanda. Acara yang diselenggarakan pada Sabtu, 29 Juni, di Wisma Duta, Wassenaar, ini diselenggarakan oleh KBRI Den Haag sebagai salah satu cara untuk mempromosikan budaya Indonesia ke masyarakat Belanda. Duta Besar Bapak I Gusti Agung Wesaka Puja pun mengungkapkan dalam sambutannya bahwa acara budaya seperti ini diharapkan bisa lebih meningkatkan pemahaman tentang budaya Indonesia dan menaikkan tingkat kunjungan wisatawan Belanda ke Indonesia. Beliau menambahkan bahwa Indonesia, yang terdiri dari jangkauan 17 ribu kepulauan, memiliki adat pernikahan yang begitu beragam dengan maknanya yang berbeda-beda. Ini menandakan bahwa Indonesia memiliki kebudayaan kaya yang patut dihargai dan dipertahankan.

Sekitar 400 tamu undangan telah hadir pada acara tersebut, termasuk di antaranya kalangan expat, pengusaha, dan wakil dari beragam kedutaan besar di Belanda. Iringan lagu khas Sunda, seperti Bubuy Bulan, Durian Pegat, dan Anjeun, mampu menghidupkan suasana acara. Begitu juga tari Ronggeng dan tari Merak menawan yang dibawakan oleh Madaloka Dance Studio. Tentu saja, para tamu menikmati itu semua sambil menyantap kuliner khas Jawa Barat: nasi liwet teri, lalapan, karedok, dan ikan pesmol.

Hal paling unik tentu saja prosesi adat pernikahan Sunda dimana seorang pengusaha wanita Sunda yang bermukim di Belanda dan bersuamikan seorang Belanda menjadi model pada prosesi pernikahan tersebut. Pada hari itu, keduanya tampil elok dalam balutan baju pengantin khas Sunda berwarna ungu tua.

Rangkaian acara adat Sunda yang ditampilkan pada hari itu berupa:

Mapag penganten: Pasangan pengantin disambut oleh tokoh yang disebut sebagai Ki Lengser, yang berdandan sebagai orang tua. Kisah ini menunjukkan penghormatan adat Sunda terhadap orang tua yang dianggap memiliki pengetahuan yang luas mengenai kehidupan. Kemudian, ia bersama para penari Merak disertai iringan nyanyian dan lagu khas Sunda mengantarkan pasangan beserta keluarganya menuju kursi pelaminan.

Sungkeman

Saweran: Acara yang tak kalah menariknya adalah saweran. Pada ritual ini, orang tua pasangan pengantin melemparkan uang recehan dan permen (bisa juga dalam bentuk beras atau bunga) kepada tamu. Konon, arti di balik upacara ini adalah untuk menyebarkan kebahagiaan dengan orang lain sehingga bila rejeki dilempar jauh-jauh, maka kebahagiaan akan dinikmati oleh banyak orang.

Sungkeman: Pada prosesi inilah biasanya momen yang paling mengharukan, baik untuk kedua mempelai maupun tamu undangan yang menyaksikan. Dalam keadaan berlutut di hadapan orangtua (atau anggota keluarga lainnya) kedua pasangan meminta maaf dan restu kepada kedua orang tua mereka.

Bakakak hayam: Pada ritual ini kedua mempelai menarik sepotong paha ayam panggang ke arah yang saling berlawanan. Pasangan (bukannya harus mempelai) yang mendapatkan bagian lebih besar dipercayai akan membawa kesejahteraan di dalam keluarga mereka. Setelah itu, potongan ayam tersebut dimakan bersama oleh kedua mempelai, menandakan bahwa kesejahteraan dan rezeki yang diperoleh perlu dibangun dan dinikmati bersama.

Acara sosial-budaya yang diselenggarakan KBRI Den Haag ini telah berhasil memberikan hadirin sebuah gambaran tentang adat prosesi pernikahan Sunda. Hawa tropis, suasana yang meriah serta kekeluargaan dengan irama lagu, kostum, dan hidangan autentik Sunda menjadikan pengalaman lebih unik dan berkesan.

Foto: KBRI Den Haag




Share.

About Author

Leave A Reply