“Adopsi Telah Menyelamatkan Hidup Saya!”

0

Nama saya Yanto Drogt dan lahir pada 31 Januari 1980 di Jakarta, Indonesia. Yah, itulah yang tercantum dalam akta kelahiran saya. Bahkan, kertas itu satu-satunya bukti bahwa saya orang Indonesia. Itu dan juga selera makan saya. Saya selalu “ngidam” masakan Indonesia.

Saya telah diadopsi ketika masih berusia 3 bulan. Waktu itu, saya sangat sakit dan kekurangan gizi. Malah, ada yang mengira saya tak akan bertahan lama. Namun, aku diberikan kesempatan hidup. Seorang pasangan dari Belanda memutuskan untuk mengangkat saya sebagai anak mereka sendiri.

Membawa saya ke Belanda bukanlah perkara yang mudah bagi orang tua saya. Tampaknya, pihak agen adopsi telah menolak mengizinkan saya pergi dengan alasan saya terlalu sakit. Tentu saja, ayahku bersikeras dan mengajukan gugatan. Proses ini berlangsung sekitar 2 sampai 3 bulan. Untungnya, ia menang dan saya pun pergi ke Belanda. Ketika tiba di sana, saya langsung diinfus dan menghabiskan satu bulan di dalam inkubator. Pada akhirnya, saya tumbuh menjadi anak yang normal dan sehat.

Kami tinggal di sebuah kota kecil bernama De Lier. Saya tumbuh menjadi seorang anak Belanda. Saya merasa sebagai orang Belanda, baik dari luar maupun dalam. Mungkin karena saya tidak pernah diperlakukan secara berbeda. Saya tidak pernah dipandang sebagai “anak berkulit cokelat dengan orang tua berkulit putih.”

Meski demikian, tidak berarti bahwa pertanyaan-pertanyaan tentang keluarga saya sebenarnya tidak pernah terlintas di benakku. Hanya rasa ingin tahulah yang mendorong saya untuk mengunjungi Indonesia dan mencari orang tua kandung saya.

Sudah dua kali saya kembali tanpa ada hasil. Panti asuhan yang telah mengurus saya dulu mengaku telah kehilangan semua dokumen selama proses pindahan. Saya tidak tahu apakah harus mempercayai mereka, tapi kurasa mereka tidak ingin anak-anak angkat menemukan orang tua biologis mereka. Ini untuk melindungi pihak orang tua biologis karena adopsi masih dianggap tabu bagi kebanyakan orang di Indonesia. Bahkan, untuk sebagian orang, masih dianggap aib.

Memang sangat disayangkan bahwa masih banyak yang berpikiran seperti ini. Jika tetap tinggal di Indonesia saat itu, mungkin saya tidak akan sebahagia sekarang ini. Mungkin saya tidak akan tinggal di rumah yang hangat dan nyaman bersama orang tua yang telah mengurus saya dengan baik. Mungkin saya tidak akan mendapatkan pendidikan yang layak. Mungkin saya tidak akan memiliki anak-anak saya dan bertemu dengan istri saya. Jujur, mungkin saya tidak akan hidup sama sekali jika tetap tinggal di Indonesia. Bagi saya, adopsi adalah sebuah berkah. Adopsi telah menyelamatkan hidup saya.

Penulis kini tinggal di Rotterdam bersama istrinya Sharifah dan memiliki 4 anak. Ia baru memulai usaha sendiri yang disebut Blue Days Footwear.

 

 

SHARE.
Share.

About Author

Leave A Reply