Enggan Menjadi “Sapi Ompong”

0

Banyak hal menarik yang bisa saya lihat dan lakukan di Indonesia, tetapi sejak pernah tinggal di Inggris sewaktu kecil dulu, keinginan untuk tinggal di luar negeri selalu menjadi impian saya. Namun kesempatan itu tidak pernah datang sampai usia menginjak lanjut. Wah, nggak lanjut banget sih, cuman sekitar 45 tahunlah (usia lanjutkah itu?). Dan tempat yang saya idamkan bukan Amerika, Asia, ataupun Australia, lebih lagi bukan Afrika, tetapi Eropa.

Sewaktu saya masih bekerja di Jakarta, pernah saya mendapat tugas ke Eropa tetapi hanya sebatas beberapa hari. Saya rasa tidak banyak yang bisa dilakukan selama bertugas karena waktu pun terbatas. Lagi-lagi keinginan untuk tinggal di Eropa semakin menggebu. Dan hari demi hari berlalu, saya hampir mengira impian saya tak akan tercapai.

Tetapi memang waktunya belum datang sampai akhirnya ada keluarga yang ditugaskan ke Belanda. Ikutlah saya walau harus meninggalkan orang-orang yang saya cintai. Tentu saja, saya harus mengurus sendiri dokumen yang diperlukan untuk bisa masuk ke negeri Oranje ini.

Orang Indonesia yang sekarang tinggal di Belanda tentu tahu bagaimana sulitnya mengurus sendiri surat-surat yang diperlukan. Belanda adalah satu satu negara di Eropa yang membatasi jumlah imigran, sehingga mereka meminta kami mengumpulkan berbagai macam surat sebanyak-banyaknya. Bahkan, sebagian tidak mudah mendapatkannya. Misalnya, karena tidak menikah maka saya harus memiliki “surat bukti” bahwa saya single. Waktu mengurus surat itu, aduh, capeknya. Pertama-tama saya harus minta surat pengantar ke RT, lalu RW, lalu Keluarahan, Kecamatan, Kantor Urusan Agama, Kantor Pencatatan Administrasi Pernikahan, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Departemen Luar Negeri, lalu ke lembaga penerjemah yang kemudian dibawa ke Kedutaan Belanda di Jakarta untuk dilegalisasi. Untuk mengurus satu surat saja biayanya tidak murah. Dan jika surat pengajuan kami salah, maka kami harus mengulangi prosedur yang sama lagi dari awal.

Namun, saya besyukur bahwa semua surat yang diperlukan lengkap dan lolos. Dalam arti lain, saya bisa berangkat ke Belanda. Dan mulailah saya menjadi seorang “buitenlander” di negeri ini.

Saya memang benar-benar merasa asing di sini. Saat itu, saya tidak kenal siapa-siapa dan buta bahasanya. Untungnya, orang Belanda tidak keberatan berbicara Bahasa Inggris. Dalam hal ini mereka berbeda dengan orang Prancis. Tentu saja, ini menguntungkan buat saya karena kemana pun saya pergi selalu bisa berkomunikasi dengan orang Belanda.

Walau begitu, saya suka merasa terganggu jika tidak bisa mengerti sama sekali Bahasa Belanda. Misalnya, ketika berada di statiun kereta api. Jika ada pengumuman perubahan jadwal kereta atau perpindahan peron, saya tidak mengerti apa yang mereka katakan. Akibatnya, saya sering salah naik kereta api atau terpaksa harus menunggu sangat lama.

Pernah pula waktu di pusat kota, tertera harga di salah satu toko “vanaf €5” untuk sebuah T-shirt. Saya ambil sebuah T-shirt karena saya pikir harganya murah, hanya €5. Ketika saya akan membayar di kasir, harga yang tercantum ternyata €15. Tentu saja saya kaget, dan kasir menjelaskan bahwa harga bajunya dimulai dari harga €5. Terpaksa, saya batal membelinya.

Masih banyak hal lain yang membuat saya tersiksa karena tidak mengerti Bahasa Belanda. Itulah sebabnya saya merasa bahwa bahasa adalah faktor penting jika ingin menetap di negeri orang. Tanpa mengerti bahasa setempat kita bagaikan berada di kegelapan. Orang berbicara bla bla bla dan kita cuman bisa bengong bagaikan “sapi ompong” yang tidak mengerti apa-apa. Hal ini benar-benar kendala besar buat saya.

Oleh karena itulah saya mencoba mengatasinya dengan mulai belajar Bahasa Belanda lewat Internet. Saya bertekad bahwa dalam waktu yang tidak lama, saya harus bisa menaklukan Bahasa Belanda. Kebetulan, banyak sekali website berguna yang saya temukan. Dari situ, saya mulai mengenal beberapa kata dan struktur kata. Beruntung, sambungan Internet saya lumayan cepat.

Setelah mulai mengenal Bahasa Belanda, saya mulai mencari “sasaran” lawan bicara. Hmmm…saya langsung mencoba berbelanja di pasar tidak menggunakan Bahasa Inggris. Saya bertanya harga suatu barang. Aduh, ternyata penjualnya tidak mengerti yang saya katakan. Saya coba menenangkan diri dan tidak grogi…saya tanya “Hoeveel kost het?” Ah…ternyata dia mengerti dan menyebut harga barang tersebut. Syukurlah, uji coba mempraktikkan Bahasa Belanda di pasar tidak terlalu mengecewakan, tetapi juga tidak mulus. Saya masih harus banyak latihan.

Tetapi, siapa yang bersedia menjadi lawan bicara saya? “Time is Money.” Tentu saja, orang tidak mau menghabiskan waktu mereka untuk mengajari orang lain tanpa bayaran. Saya sedikit pesimis untuk menemukan lawan bicara yang gratis. Saya lalu cari di Internet mengenai orang yang bisa sharing tanpa harus membayar. Untunglah, saya menemukan lembaga SamenSpreken. Lembaga ini adalah lembaga nirlaba untuk membantu orang yang ingin berkomunikasi dalam Bahasa Belanda. Lembaga ini dikerjakan oleh sukarelawan. Para sukarelawan itu kebanyakan terdiri dari para wanita, bahkan sebagian yang juga bekerja.

Saya mendaftar di website mereka, dan selang seminggu kemudian saya mendapat balasan untuk mengenalkan diri. Seseorang dari SamenSpreken bernama Annie menelpon saya untuk membuat janji. Kami sepakat untuk bertemu di perpustakaan terdekat. Kami mulai berbicara sambil saya mengisi formulir. Kami mengobrol tentang hobi dan kesukaan saya. Saat itu, saya berbicara campur aduk: Bahasa Belanda dan Bahasa Inggris yang keluar dari mulut saya. Annie ternyata bukan lawan bicara saya dalam SamenSprekan, karena tugasnya hanya untuk mengenal diri saya lebih lanjut. Tugasnya adalah untuk mencarikan lawan bicara yang cocok untuk saya.

Setelah pertemuan itu, saya terus belajar Bahasa Belanda lewat Internet. Sampai akhirnya dua minggu berselang, Annie menelpon saya kembali dan mengatakan bahwa saya akan dikenalkan dengan seorang musisi bernama Elizabeth. Dialah yang akan menjadi SamenSpreken saya. Saya senang mendengar bahwa saya akan mendapatkan teman bicara.

Saya membuat janji dengan Elizabeth setelah mendapat nomor telponnya. Kami janjian bertemu di perpustakaan. Saya lebih suka janjian di perpustakaan karena lokasinya di pusat kota dan siapa pun bisa masuk dan duduk tenang di ruangan yang hangat.

Elizabeth ternyata pemain biola dari salah satu kelompok orkestra ternama di Belanda. Orangnya sedikit pendiam tetapi ramah. Kebetulan dia juga single sehingga memiliki waktu untuk bisa membantu orang lain. Kami akhirnya “ngobrol” dalam Bahasa Belanda. Jika saya salah atau tidak jelas dalam mengucapkan suatu kata atau kalimat maka dia secara sopan akan mengoreksinya. Setelah dua jam mengobrol, kami membuat janji untuk pertemuan berikutnya.

Pertemuan demi pertemuan kami lakukan untuk memperbaiki Bahasa Belanda saya. Bahasa Belanda saya pun membaik. Kami bertemu di berbagai tempat. Kadang kami pergi ke pantai, ke park, ke museum, dan pernah pula di rumah Elizabeth ketika dia berulang tahun. Waktu Elizabeth konser saya pernah diajak untuk menontonnya. Saya senang dengan pertemanan ini karena saya bisa belajar banyak. Bukan hanya belajar tentang bahasa, tetapi juga bisa mengenal lebih lengkap tentang budaya dan kebiasaan orang Belanda.

Saya merasa kini bisa lebih mandiri. Mengenal bahasa setempat ternyata sangat vital dalam menjalankan kehidupan sehari-hari di negeri orang lain. Saya tidak lagi menjadi “sapi ompong”. Dan saya juga tidak perlu lagi ketinggalan atau salah naik kereta api lagi.

Inilah kisahku. Semoga sukses buat Anda yang baru belajar Bahasa Belanda!

Salam,

Santy, 48 tahun, Haarlem

SHARE.
Share.

About Author

Leave A Reply