Yussa Nugraha: Bocah Asal Solo Diminati Klub-klub Sepak Bola Besar Belanda

0

Bermula dari iseng kini menjadi sebuah impian. Begitulah awal hubungan Yussa Nugraha dengan sepakbola. Pada 2009, orang tua Yussa (Edi Nugraha dan Indra Lieu) memasukkan putranya yang berusia 8 tahun ke dalam klub sepakbola amatiran VV Haagse Hout di Den Haag. Dari sana, Pak Edi dan Bu Indra—keduanya berasal dari Solo—melihat sebuah bakat yang muncul dalam diri anaknya. Mereka pun mulai serius menghantarkannya menjadi seorang pemain bola professional.

 

Yussa dilirik klub besar

Ternyata bukan saja orang tuanya, sudah banyak pihak scouting dari klub sepak bola besar di Belanda yang mulai mengakui bakatnya. Di antaranya adalah ADO Den Haag yang telah mengundangnya untuk menjalani tes masuk ke sana. Tentu saja, ini sebuah kejutan yang membahagiakan buat Yussa dan keluarganya. Tidak menyangka bahwa pemuda 12 tahun itu bisa mendapatkan kesempatan untuk masuk ke salah satu klub liga tertinggi Belanda tersebut. Namun, sayang, pada test yang berlangsung pada bulan April 2013 lalu, Yussa tidak berhasil lolos seleksi.

Bagaimanapun, kegagalan tersebut tidak mematahkan semangatnya dan ia terus berlatih. Yussa malah langsung ditarik oleh SVV Scheveningen Divisi 1, sebuah klub menengah yang memiliki kerja sama yang baik dengan ADO Den Haag. Dengan kata lain, pintu kesempatan bocah kelahiran 21 Maret 2001 untuk masuk ke ADO Den Haag belumlah tertutup.

 

Yussa Nugraha: Bocah Asal Solo Diminati Klub-klub Sepak Bola Besar Belanda belindomag.nl

Yussa di lapangan

Latihan ketat di SVV Scheveningen

Saat ini, Yussa berlatih dengan Pieter de Klerck. Berbeda dengan klub sebelumnya, latihan kali ini menuntutnya untuk lebih disiplin. Latihan dilakukan 3 kali per minggu setelah waktu pulang sekolah (Yussa tengah sekolah di Edith Stein, Den Haag) dan satu kali pertandingan pada hari Sabtu. Dengan latihan yang rutin seperti itu, Yussa harus pintar-pintar membagi waktu antara sekolah, mengerjakan PR, bersosialisasi, dan latihan. Selain itu, tidak ada kata “jam karet” saat latihan, karena konsekuensinya adalah ia tidak diperbolehkan ikut pertandingan. Namun, si penggemar Christian Ronaldo itu semangat menjalani semua itu. Meskipun streng, ia banyak belajar dan sangat senang mempelajari beragam taktik dan strategi dari pelatihnya. Menurutnya, sepak bola tidak hanya olahraga fisik tapi harus dipadu dengan taktik dan strategi kuat yang berbasis teamwork.

 

Undangan dari KNVB dan FC Feyenoord

Latihan kerasnya selama ini ternyata berbuah hasil. Scouting dari pihak KNVB melihat bakat Yussa dan mengundangnya untuk tes seleksi pada hari Rabu, 29 Januari 2014 kemarin. Hasilnya, Yussa lolos tahap pertama. Namun, para peminat tidak berhenti di sana. FC Feyenoord C1 Rotterdam pun tidak kuasa menahan rasa ketertarikannya pada Yussa. Tes tersebut telah diikuti Yussa pada awal bulan Februari lalu.

 

Yussa Nugraha: Bocah Asal Solo Diminati Klub-klub Sepak Bola Besar Belanda belindomag.nl

Yussa bersama orang tua serta kakaknya yang senantiasa mendukung impiannya

Maju terus pantang mundur

Bagaimana kiranya keputusan dari pihak KNVB dan FC Feyenoord? Ketika ditanya tentang hal ini, Yussa menjawab dengan menyebutkan mottonya: “Kerja keras nomor satu, menang atau kalah nomor dua.” Yussa sendiri sangat percaya bahwa masa depannya adalah sepak bola. Oleh karena itu, apa pun yang terjadi dan apa pun hasilnya, ia akan terus berjuang untuk mencapai impiannya menjadi pemain sepak bola Indonesia di kancah internasional. Untung saja, ia memiliki keluarga dan banyak teman yang sangat setia dan terus mendukung impiannya tersebut. Maju terus, pantang mundur, Yussa!

 

Share.

About Author

Leave A Reply