Mengenal kantor arsitek ternama berskala internasional SHAU: aspek multikultural dan fleksibilitas menjadi kunci keberhasilan

0

Oleh: Wati Chaeron

Keunggulan karya arsitek SHAU kerap mendapat sorotan dunia arsitektur karena keahliannya dalam membuat konsep arsitektur yang unik dan menjawab tantangan masyarakat dan lingkungan. SHAU didirikan oleh Daliana Suryawinata dan Florian Heinzelmann, yang kebetulan adalah juga suami istri. Mereka bertemu pada tahun 2004 saat keduanya tengah mengambil S2 jurusan Arsitektur di Berlage Institute Rotterdam (sekarang menjadi bagian dari TU Delft). Setelah berpengalaman bekerja untuk berbagai kantor arsitek ternama di Belanda (seperti: OMA, MVRDV, UN Studio dan West8), keduanya memberanikan diri berlayar di kancah dunia arsitektur dengan mendirikan perusahaan sendiri. Pada 2009, lahirlah SHAU di Rotterdam, Belanda, atas dasar ambisi mereka yang ingin menghasilkan karya-karya arsitektur yang indah dan performatif. Daliana berspesialisasi dalam strategi desain perkotaan sementara Florian ahli dalam merancang bangunan hijau berkelanjutan. Dengan memiliki kantor arsitek sendiri, keduanya dapat menentukan arah dan bertanggung jawab penuh untuk semua tahapan arsitektur mulai dari penyusunan konsep, pelaksanaan, sampai hasil akhir. Selain di Belanda, SHAU memiliki kemitraan di Munich (sekarang di Passau, Jerman sebelah selatan) dan sejak 2012 telah dibuka kantor di Jakarta (kini di Bandung) yang sekaligus menjadi kantor pusatnya.

Ciri khas desain SHAU terletak pada keunikan konsep dan bentuk yang menjadi daya tarik pengunjung setempat dan luar negeri. Unsur fungsionalitas yang tinggi serta penggunaan material-material berkelanjutan juga merupakan keunggulan desain SHAU. Beberapa karya mereka yang menjadi sorotan dunia adalah Alun Alun Cicendo Park Bandung, Microlibrary Taman Bima, Muara Angke Vertical Kampung and Masterplan, dan masih banyak lagi (info lebih lanjut di: www.shau.nl atau instagram @shauarchitects).

Selain sukses menjalankan bisnisnya, Daliana dan Florian sangat kompak dalam menjalankan rumah tangganya. Dari pernikahannya yang sudah berlangsung lebih dari sepuluh tahun, terlahir putra kesayangannya, Elian, yang kini sudah berusia 10 tahun. Latar belakang pertemuan budaya antara Asia dan Eropa menjadi dasar yang komplementer dalam menjalankan profesi dan rumah tangga mereka. Elian pun kadang diajak ke berbagai acara dan pameran arsitektur yang ternyata juga sering dilakukan oleh pasangan-pasangan sesama profesi lainnya.

Belindomag mendapat kesempatan mewawancari pasangan emas ini, simaklah hasilnya di bawah ini:

  1. Apa yang menjadi kunci keberhasilan SHAU sebagai kantor arsitek ternama berskala internasional yang berlatar belakang Indonesia-Belanda-Jerman?

Daliana: Menurut saya, inilah saatnya waktu yang tepat untuk langsung maju secara global dalam berbisnis, baik bisnis kecil maupun besar. Dunia telah menyediakan infrastuktur sedemikian rupa untuk semua orang. Bagi kami sebagai arsitek, penting untuk memiliki visi yang jauh ke depan dan tujuan yang ingin dicapai – seperti dengan SHAU, fokus utama kami adalah menanggulangi problematika sosial dan lingkungan dengan menggunakan desain arsitektur yang unik dan menarik – agar bisnis Anda sesuai dengan harapan dan ambisi yang ditargetkan dari awal. Kuncinya adalah fleksibilitas dan bisa beradaptasi sesuai konteks yang bersangkutan, sementara menjaga keunikan identitas dan menjaga integritas profesi kita.

Florian: Jagalah keterbukaan dan fleksibilitas. Tentunya, semua pebisnis akan mengalami hambatan yang disebabkan oleh perbedaan budaya dan cara berkomunikasi yang berbeda-beda. Dalam menghadapi permasalahan seperti ini, kita harus sanggup mengatasinya dengan pemikiran yang terbuka. Jangan berpikir dalam pola ‘kami di negara ini menjalankan bisnis seperti ini, maka itu bisnis harus begini’, karena pemikiran ini akan mengakibatkan stagnansi posisi kita sendiri. Keterbukaan ini penting baik untuk hubungan internal maupun eksternal dengan pihak luar. Anda harus kritis dalam menganalisa sebuah kejadian dan bagaimana Anda menanggapi kejadian tersebut. Dalam hal ini, kerjasama Anda dengan mitra lain sangat penting. Sebagai contoh, kami terlibat dalam pengawasan konstruksi proyek kecil di Bandung, kami memerlukan orang yang mahir berbicara Bahasa Sunda dan yang memahami budaya Sunda supaya tidak terhambat pada perbedaan kultural.

  1. Apakah yang menjadi dorongan Anda untuk menjadi arsitek yang sukses seperti ini? Apakah nasihat serta kata-kata motivasi Anda kepada para calon arsitek?

Daliana: Saya selalu berkeinginan untuk membuat yang terbaik dalam hidup saya. Dalam hal ini saya telah memilih profesi yang tepat karena sebagai arsitek saya memiliki tanggung jawab untuk membantu perkembangan masyarakat melalui desain arsitektur.

Florian: Saya setuju dengan Daliana. Selain itu, saya ingin menambahkan bahwa keberhasilan adalah dimana desain atau proses perancangannya dihargai oleh klien dan perlu ada pemahaman bahwa desain adalah hasil dari upaya kerja keras. Bila Anda arsitek atau desainer, nasihat saya adalah: Pertama, kadang klien Anda tetap harus diingatkan bahwa desain memakan kreativitas tinggi dan waktu. Kedua, jangan pernah mau bekerja tanpa pembayaran atau kalau bekerja untuk klien maka diusahakan dalam kerangka persetujuan yang jelas, contohnya bagaimana perjanjian mengenai hak cipta. Ini berlaku juga bila Anda magang untuk firma arsitek tertentu, haruslah menerima pembayaran. Tidak ada seorang pun yang berani berkonsultasi dengan dokter atau pengacara tanpa pembayaran, tapi herannya orang-orang sering berpikir para arsitek bisa diminta untuk bekerja tanpa pembayaran. Menurut saya, ini juga sebagian besar salah kita sendiri dan pendidikan arsitektur yang membiasakan arsitek senantiasa lembur. Hormatilah dirimu dan profesimu, tidak ada proyek yang hanya ‘baik untuk portfolio’. Sayang sekali situasi ini adalah realitas bagi kebanyakan pekerja industri kreatif.

  1. Bagaimana SHAU mengatasi tantangan dunia, seperti perubahan iklim dan arus migrasi yang meningkatkan dinamika mobilisasi budaya, melalui solusi arsitektur?

Sebenarnya dalam konteks arsitektur semua aspek permasalahan biasanya dapat ditanggulangi bersamaan dalam desain. Setiap proyek mencakup kombinasi tema dan permasalahan yang berbeda-beda. Contohnya dalam microlibraries, kami menitikberatkan aspek pendidikan, penggunaan material daur ulang (plastik sampah), desain gedung hemat energi dan permasalahan sosial (dengan ruang komunitas dan playscape untuk anak). Untuk proyek perumahan bertingkat tinggi (high rise residential project) kami menganjurkan bahwa ruang komunitas dan fasilitas umum harus menjadi aspek penting dalam konsep perumahan. Usulan desain mencakup balkon umum yang berlapis-lapis untuk mengakomodasi kebutuhan sosial para warga perumahan. Dengan adanya desain ini fasilitas ruang publik, kohesi sosial, dan aneka ragam program sosial dapat dikerahkan.

  1. SHAU telah bertahun-tahun aktif berpartisipasi dalam proyek-proyek arsitektur di Indonesia. Apakah yang menjadi tantangan utama dalam meningkatkan kualitas berkarya dalam dunia arsitektur Indonesia?

Menurut kami tantangan besar adalah mindset yang ingin segala sesuatunya harus cepat, baik, dan murah. Permasalahan ini mengakibatkan kurangnya perhatian atas kualitas, upaya dan energi. Ini merupakan masalah umum di negara-negara yang sedang berkembang, tidak hanya di Indonesia. Tantangan terbesar adalah kurangnya percaya diri baik perorangan maupun secara institusional. Sering karya dan ide kami dipandang terlalu visioner dan terlalu ‘berani’ untuk pasar saat ini. Namun, selangkah demi selangkah, kami menemukan klien dan kolaborator luar biasa yang memiliki persamaan visi yang tidak takut bergerak maju bersama meskipun apa yang dilakukan belum ada presedennya di Indonesia.

  1. Negara Indonesia dan Belanda kini sedang menghadapi risiko akibat peningkatan permukaan laut . Pelajaran apa yang dapat dipelajari Indonesia dari perkembangan arsitektur Belanda dalam menanggulangi permasalahan ini?

Belanda memiliki keahlian teknik perairan terbaik di dunia, tentunya Indonesia dapat belajar banyak dari Belanda. Membangun bersama alam (Building with Nature), yang pertama kali dikemukakan Prof. Ronald Waterman, adalah strategi yang banyak diimplementasi di Belanda untuk menanggulangi peningkatan permukaan air laut. Namun, Indonesia menghadapi permasalahan yang berbeda tentang banjir dalam kota: berhubung iklim tropis, air tidak membeku, dan tidak mengancam jiwa. Maka banjir di Indonesia sebenarnya dianggap kurang serius oleh orang Indonesia sendiri.  Dalam perspektif perencanaan regional, regulasi daerah mengenai zoning dan peruntukan harus benar-benar direncanakan, diimplementasi & dievaluasi.  Selain itu, kita harus banyak belajar dari polder model: bagaimana partisipasi semua pemangku kepentingan termasuk masyarakat  perlu untuk mencapai realisasi yang sukses.

  1. SHAU telah banyak meraih penghargaan ternama, apakah keberhasilan yang masih diimpikan?

Menurut kami pencapaian SHAU baru saja dimulai. Masih banyak yang harus diraih. Impian kami adalah merancang bangunan-bangunan sebagai berikut: keajaiban dunia 4.0, museum, masjid atau gereja yang sangat unik, perumahan yang manusiawi berkonsep kampung vertikal, 1000 microlibraries di seluruh dunia.

Share.

About Author

Leave A Reply