Terp(Ikat) oleh keelokan motif dan cerita di balik tekstil dari Nusa Tenggara Timur

0

Oleh: Wati Chaeron

Seringkali kita dengar tuntutan para konsumen terhadap kebijakan sektor fashion untuk lebih bertanggungjawab secara ekologis dan sosial. Dalam hal kerajinan Ikat, salah satu kebijakan sosial yang kini erat diperhatikan adalah otentisitas atau ketulenan praktek menenun kain ikat. Kerajinan ini dapat ditelusuri sejak abad 3 Masehi (https://id.wikipedia.org/wiki/Kain_tenun_NTT) di kala NTT berada di bawah kekuasaan kerajaan pertamanya. Sudah selama inilah kerajinan ikat dikenal sebagai budaya yang memiliki nilai keunikan tersendiri. Makna cerita pembuatan kain ikat dan proses menenun yang memerlukan penuh kesabaran dan kedisiplinan membuat kain ikat tersebut indah dan bermakna. Sehingga setiap pemakainya akan menyadari kehormatan atas pakaian yang dimilikinya. Setiap suku dan adat komunitas NTT menghasilkan corak dan motif ikat yang unik. Selain itu, cerita pribadi ataupun cerita kemasyarakatan dapat ditelusuri kembali dalam karya jadi kain ikat.

Namun, kebudayaan tradisional menenun ini mengalami kepunahan karena struktur sosial dan ekonomi yang kurang mendukung para pengrajinnya. Di sinilah pentingnya peran Center for Cultural Development in the Netherlands (CCD-NL). CCD-NL telah meluncurkan langkah-langkah revitalisasi untuk memberikan kemasyhuran kerajinan tenun tradisional ini dengan cara bekerja sama dengan sektor seni di Belanda. Tema revitalisasi CCD-NL berbunyi “Binding with Ikat” dan mencakup dua fase: fase pertama ditujukan untuk meningkatkan perkenalan serta bertukar pikiran pengetahuan antara penenun ikat dengan pakar seni dari Indonesia maupun Belanda; fase kedua dijadikan momentum untuk meningkatkan kerja sama antara pihak seni Belanda dan Indonesia untuk melahirkan perkembangan dan inovasi dalam sektor kreatif ekonomi kedua negara.   

Dalam rangka menutup fase pertama, yang berakhir tahun 2019, CCD-NL bersama BNI, PPI Belanda, Awearness Kollektif, KBRI Den Haag, dan perwakilan kabupaten Belu (salah satu kabupaten NTT yang kerap dikenal kecantikan seni ikatnya) telah melangsungkan event pada tanggal 28 November 2019 di Aula Nusantara KBRI Den Haag. Tema event berbunyi: “Together with Ikat, a Dutch & Indonesian artisan’s workshop and exhibition”. Para hadirin mendapat kesempatan menyaksikan workshop ikat yang diberikan oleh dua pengrajin dari kabupaten Belu, yakni Selviana Boi Dao dan Wehor Hadomi, ketua organisasi warga penenun Belu.

Talkshow bersama penyelenggara acara dan perwakilan dari Indonesia. Dari ki-ka: Bapak Willybrodus Lay (Bupati Belu), Ibu Lidwina Vivawaty Ng (Pengusaha dan perancang busana), Ibu Yety van der Made-Haning (Pendiri CCD-NL), Ibu Selviana Boi Dao (Ketua Perkumpulan Penenun Wehor Hadomi) dan Ibu Julita Oetojo (PhD dalam bidang fashion)

Selain workshop, beberapa presentasi juga diberikan oleh para pakar seni tenun. Salah satu hal yang menarik yang saya dapatkan dari presentasi tersebut adalah bahwa warna-warna yang digunakan pada ikat yang nyatanya berasalkan dari sumber nabati. Warna-warna dasar seperti kuning berasal dari kunyit, merah dari pohon Morinda, biru dari tanaman Indigo, hijau dari dedaunan Suji, sementara Gala-gala serta ungu dari daun jati.

Ternyata corak ikat juga sudah dipergunakan dalam koleksi baju-baju dari produsen terkenal seperti H&M, Zara, dan Hema. Hanya saja, motif ikat dicetak (printing) pada baju bukan ditenun dengan tangan. Selain itu tujuan penggunaan motif ikat bersifat sementara tanpa mendapatkan predikat keunggulan produk. Oleh karena itu, salah satu pembicara, Lara Peeters, berpendapat bahwa tenun ikat perlu dipertahankan sebagai produk premium yang memiliki nilai tinggi di dunia fashion. Lara sendiri adalah pengusaha dari Belanda dengan bisnis aksesori ikat yang diberi nama LARAS. Lara ingin membantu meneruskan warisan budaya Indonesia ini dengan melestarikan proses produksi dimulai dari kerjasama para designer Belanda dengan penenun Indonesia dengan mencantumkan cerita riwayat hidup para penenun yang dipresentasikan di bawah merek LARAS. Cerita para penenun mengandung ajaran-ajaran kearifan nenek moyang kebudayaan NTT yang patut wariskan kepada generasi baru.

Tas LARAS

Event ini ditutup dengan fashion show yang berhasil membuat para hadirin terpesona akan indahnya motif-motif ikat. Keserasian rancangan baju-baju modern dengan kain tradisional tenun ikat, hasil karya Lidwina Vivawaty Ng dan Merdi Sihombing, sangat merayu retina mata kita semua. Apalagi disertai aksesori perhiasan-perhiasan anggun dan ekspresif dari Ferlin Vermeer Yoswara (fyfinejewelry.com) serta tas-tas dari LARAS (larasbags.com) dan dari Ayotupas (ayotupas.com) yang memberikan penampilan yang eksekutif dan trendy sekaligus.

Akhir kata, setelah event Ikat ini kita tetap terbayang-bayang akan keelokan dan kewibawaan baju-baju bermotif tenun ikat yang memiliki potensi tinggi dalam sektor tekstil di tingkat dunia. Marilah kita rayakan warisan budaya bangsa Indonesia dengan meningkatkan penghargaan kita sendiri atas keotentikan kerajinan tradisional bangsa!

SHARE.

About Author

Leave A Reply