Ulasan film Bumi Manusia: kisah cinta pria pribumi dan wanita keturunan Belanda dalam kehidupan menuju modernitas di zaman kolonialisme Hindia-Belanda

0

Buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer sudah kubaca beberapa tahun yang lalu, namun adegan-adegan hasil pena sastrawan besar ini masih jelas dalam pikiran mayaku. Inilah kemampuan Pramoedya yang berhasil melukiskan sebuah cerita kompleks yang mengandung gambaran permasalahan martabat kepribadian bangsa yang tertindas dengan indah dan jelas. Mulai dari penelusuran jati diri masing-masing pemeran sampai pada dinamika percakapan yang akhirnya membentuk kepribadian telah terlukiskan begitu terarah.

Empat puluh tahun lamanya buku Bumi Manusia telah digemari banyak pembaca dari seluruh pelosok Nusantara dan dunia berkat terjemahannya dalam 33 bahasa asing. Buku sastra yang telah diserap retina banyak orang ini akhirnya dijadikan proyek film sutradara Hanung Bramantyo untuk ditampilkannya ke layar lebar. Tantangan berat yang ditanggung Hanung ini menandakan permulaan kedewasaan industri film Indonesia.

Kini waktuku tiba untuk menyaksikkan film Bumi Manusia di Studio/K, Amsterdam, pada acara tahunan Cinemasia Film Festival. Bersama sekitar 200 penonton, saya siap menyerap apa yang akan dihadapi, tanpa harapan apa pun dan pikiran yang terbuka.

Aktor Belanda Bumi Manusia hadir di Cinemasia, dari ki-ka: Salome van Grunsven, Tom de Jong, Dorien Verdouw, Peter Sterk, Angelica Reitsma, Ton Feil, Rob Hammink

Rasa kehangatan nasionalisme timbul saat Tom de Jong, salah satu aktor Belanda yang berperan dalam Bumi Manusia, menyanyikan lagu nasional Ibu Pertiwi. Acara diteruskan dengan penayangan film yang dibuka dengan refrain lagu kebangsaan Indonesia Raya yang menandakan periode kebangkitan nasional yang dirintis kejadian-kejadian politik-etis dalam plot buku Bumi Manusia.

Pemeran utama, Minke, merupakan anak bupati yang bergulat akan kedudukannya sebagai pribumi di bangku sekolah HBS, yang kebanyakan muridnya keturunan Eropa dan Belanda. Minke jatuh cinta dengan Annelies, seorang wanita yang lahir dari ayah Belanda, Herman Mellema, dan ibu pribumi, Nyai Ontosoroh.

“Cinta dan tragedi adalah hal yang tidak dapat terpisah”, dituturkan Jean Marais kepada kawannya, Minke, yang berniat menyatakan cintanya kepada Annelies Mellema.

Cerita cinta antara Minke dan Annelies serta keluarga Mellema yang begitu kompleks dijadikan plot utama untuk mengupas permasalahan sosial-politik periode awal abad ke-20 di Hindia-Belanda. Kehidupan para pribumi yang begitu tertindas akibat instrumen sistem perhukuman yang tidak berlaku atau selalu merugikan pihak pribumi menyoroti gerakan watak ketegaran Minke dan Nyai Ontosoroh. Kita ikuti tokoh Minke yang mencari jalan mustahil untuk mengesahkan pernikahannya dengan Annelies sementara  Nyai Ontosoroh berjuang menuntut hak atas usaha yang telah dikelolanya dan sebagai wali yang sah atas putrinya. Kelak, perjuangan mereka yang sangat meluap membawa nasib mereka pada posisi yang rentan.

Pelukisan kekuatan daya dan kewibawaan manusia dalam kompleksitas psikologi inilah yang membuat benakku tergetar. Kewaspadaan atas pentingnya penegakkan keadilan di atas permukaan bumi yang secara simpang siur dilintasi oleh berbagai macam kepentingan manusia. Hati tersentuh sembari mata tidak berhasil menahan tangisan, nasib nenek moyangku berlabuh tegar di benakku.

Hasil jerih payah sutradara Hanung tidak sia-sia karena ia berhasil meluncurkan film Bumi Manusia yang indah dan bermutu. Menurutku, film ini patut diapresiasi dan bisa dikatakan salah satu film Indonesia terbaik yang lama dirindukan. Namun, masih ada beberapa catatan sampingan yang harus saya sebut di sini, yaitu kualitas acting yang belum mulus atau natural dan juga proses pembentukan kepribadian para pemeran yang dapat diolah lebih matang lagi.

Sebagai pengagum Christine Hakim, saya sangat terpesona dengan bakat akting peran wanita-wanita yang berperan sebagai ibu dalam film ini, seperti Nyai Ontosoroh yang dimainkan oleh Ine Febriyanti  dan ibunya Minke yang dimainkan oleh Ayu Laksmi. Kedua sosok wanita pribumi tersebut menjadi simbol mesin penggerak kebangkitan nasional bangsa Indonesia. Dasar kecermatan dan kewibawaan seorang wanita dalam menjalankan tugasnya sebagai pengusaha maupun ibu rumah tangga berhasil memupuk kepribadian integritas masyarakat dan generasi penerus.

“Kita kalah Ma!” tangisan Minke yang menggores hati saat istri tak sahnya, Annelies, tanpa pamrih harus dibawa petugas untuk diberangkatkan ke Amsterdam. Dijawablah oleh Nyai Ontosoroh dengan bijak walau ia pun harus melepas buah hatinya, “Kita telah melawan, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya”. Inilah frasa Pramoedya yang layak diterapkan dalam perjuangan membela kebenaran.

Akhir kata, Bumi Manusia adalah film yang akan membawa para pemirsa ke dalam alam sastra, politik, cinta, kebencian, kegelisahan dan kecemasan. Marilah menghidupkan semangat Pramoedya untuk tetap menegakkan keadilan sosial. Selamat menonton!

Watch Bumi Manusia at Netflix!
SHARE.
Share.

About Author

In deze tijdperk van globalisering zouden we eigenlijk meer open moeten zijn voor de wereld, zonder te vergeten waar je vandaan komt. Als schrijver bij Belindomag wilt Wati aan de lezers laten zien dat onze toekomst optimist-verantwoord is. De creatieve en levendige culturele wortels van Nederland en Indonesië hebben Wati gevormd en zijn overigens ook de pilaren van onze maatschappij. Wij bepalen de koers van de toekomst op basis van onze gedeelde normen en waarden. “Ik ben Belindo die van de culturele dynamiek tussen Nederland en Indonesië houd, ik koester het respect en saamhorigheid van onze maatschappijen”.

Leave A Reply