Travel Blog: Berlibur di Pulau Gili

0

Oleh: Dewi Bahgio

Dan di sanalah aku duduk…

…di sebuah perahu lokal bersama beberapa wanita di sebelah saya yang membawa keranjang penuh ikan teri untuk dijual di Gili. Perjalanan perahu yang indah, dan biayanya hanya satu euro. Musik dangdut terdengar bersamaan dengan suara motor mesin dan suara orang-orang yang bercakap. Betapa indah pemandangannya dan jernihnya air laut.

Perahu berhenti bertanda kami sudah sampai. Kami masih perlu sedikit jalan di air hingga sampai darat. Sekali lagi, saya terpana melihat air yang jernih serta pemandangan yang indah ini. Saat itu, aku yakin…ini benar-benar surga duniawi.

Apa yang akan saya lakukan sekarang? Lebih baik aku jelajahi daerah ini sebelum aku meletakkan handuk di atas pasir dan mulai rileks.

Pusat kota Gili Trawangan terdiri atas jalanan panjang di pinggiran pantai yang dihidupi oleh beragam tempat penginapan, tempat makan, dan sekolah menyelam. “Hotel mana yang akan saya pilih?” pikirku. Pada saat itu, aku melihat sebuah hotel bernama Manta Drive, yang dari luar tampak begitu menarik. Hotel itu terdiri atas rumah-rumah kayu beratap bundar. “Di sanalah tempat penginapanku!” pikirku seketika

Satu kamar seharga tujuh belas euro per malam. “Murah sekali” pikirku. Aku segera meletakkan barang-barang di kamar dan langsung pergi menuju pantai yang terletak di seberang hotel. Karena ingin pergi snorkeling aku pun menyewa alat-alatnya dengan seharga lima euro per hari.

“Oh, air lautnya hangat sekali, tentu 30 derajat.” Beberapa langkah ke dalam air apa yang kulihat? Ikan-ikan berwarna-warni berenang mengelilingi kakiku. Mungkin dua jam lamanya aku berdiam diri dalam laut sambil menikmati semua keindahan di bawah air ini. “Mmm…aku lapar, sebaiknya aku makan malam sekarang.” Aku memesan nasi dengan lobster panggang dan sambal kecap ditambah dengan jus mangga besar. Rasanya lezat sekali. “Aku bisa berada di sini selamanya,” pikirku saat itu.

Ketika hari mulai gelap, aku memutuskan untuk menikmati pemandangan matahari terbenam. Di Gili tidak ada mobil, melainkan delman. Saat aku tengah memandangi matahari terbenang, seorang pria mendatangiku dan bertanya jika aku mau naik delman. Aku melakukan tawar-menawar harga dengannya untuk membawaku mengelilingi pulau. Kereta kuda itu membawaku perlahan-lahan, tatapanku tak lepas dari pemandangan di laut.

Setelah sekitar setengah jam ke empat puluh lima menit, aku kembali di tempat yang sama. Sekarang saatnya untuk menikmati kehidupan malam Pulau Gili. Saya mampir ke Bar Sama-Sama yang mengalunkan musik Reggae. “Ini tempat yang menyenangkan,” pikirku langsung dalam hati. “Lucu juga melihat para Rasta Indo bernyanyi dan menari seperti itu.” Setelah beberapa jam kulalui dengan menyenangkan bercakap-cakap dengan penduduk setempat dan beberapa turis dari Australia, aku memutuskan untuk pergi ke hotel dan tidur.

Keesokan harinya, setelah sarapan yang lezat aku naik perahu yang membawa kami agak jauh dari dataran dan langsung terjun ke laut. Namun, setelah beberapa jam tiba-tiba saya melihat seekor hiu!!! Memang hiunya masih kecil, tapi saat itu aku sempat berpikir kalau ada hiu kecil berarti sang bapak dan ibu hiu juga ada di sekitar.

Saat itu juga petualangan laut saya langsung selesai. Aku memilih untuk berjemur di atas perahu hingga saatnya kembali berlabuh.

Pada bulan Oktober aku akan kembali ke sana. Aku belum pernah menemukan sesuatu yang lebih indah dari Gili.

SHARE.
Share.

About Author

Leave A Reply